KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketertarikan Dimas Yusuf, Direktur Investasi Sucor Asset Management, pada dunia investasi sudah muncul sejak usia belia. Momentum yang membekas adalah saat kakeknya membeli Toyota Yaris dari hasil investasi obligasi ritel alias ORI dengan kupon belasan persen.

"Dari situ saya sadar bahwa uang sebenarnya bisa berkembang jika diinvestasikan, bukan hanya disimpan," kenang dia, ketika ditemui KONTAN, pekan lalu.

Minat itu berlanjut hingga SMA, ketika Dimas mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang ekonomi. Dalam simulasi trading di Bursa Efek Indonesia (BEI), timnya sempat tertekan akibat koreksi saham blue chip imbas krisis global. Tapi, dengan strategi terukur, Dimas dan tim berhasil meminimalkan kerugian dan keluar sebagai pemenang. Dari pengalaman itu, pria kelahiran 1992 ini belajar bahwa mengelola portofolio bukan cuma soal mengejar untung, tapi juga mengendalikan risiko.

Baca Juga: Hobi Dahulu, Cuan Kemudian

Kariernya berlanjut dari PT Elnusa Tbk hingga meraih gelar S2 di Universitas Bristol, sebelum akhirnya bergabung dengan Sucor Asset Management pada 2016. Dimas sempat berinvestasi saham, namun beralih ke reksadana karena terbentur aturan internal sebagai manajer investasi dan keterbatasan waktu.

Menurut Dimas, instrumen reksadana memiliki keunggulan lantaran isi portofolionya sudah terdiversifikasi, memiliki tata cara investasi yang lebih praktis, serta aturan yang lebih akomodatif bagi investor yang bekerja di perusahaan manajer investasi.

Memilih reksadana

Dimas mengakui, dirinya termasuk tipe investor yang agresif. Karakteristik ini sebenarnya muncul seiring bertambahnya pengalaman dalam berinvestasi. Sosok yang telah memiliki dua anak perempuan ini sudah melalui berbagai fase krisis di pasar keuangan seperti pandemi Covid-19 bahkan hingga krisis yang terjadi baru-baru ini, sebagai akibat dampak konflik geopolitik di Timur Tengah dan keputusan MSCI.

Bagi Dimas, setiap krisis selalu menghasilkan pola yang serupa, yakni aset-aset yang tadinya mengalami koreksi mendalam akan kembali pulih kinerjanya ketika krisis mereda. Tentu saja hal itu dengan dukungan fundamental yang kuat.

Baca Juga: Kiat Dimas Yusuf: Sejarah Jadi Senjata Berinvestasi Hingga Menyetir Hilangkan Stres

Dimas juga menjelaskan, ketika terjadi tren koreksi di pasar, ia justru memindahkan sebagian asetnya di reksadana pasar uang dan pendapatan tetap ke reksadana saham secara bertahap. Hal ini dengan memanfaatkan posisi harga reksadana saham yang terdiskon di masa krisis.

"Tapi begitu rally lagi kinerja reksadana sahamnya, jangan lupa di-rebalancing kembali alokasinya," kata dia.

Untuk saat ini, sekitar 85% portofolio investasi Dimas berupa reksadana saham, sedangkan sisanya adalah reksadana pasar uang. Porsi reksadana saham sebenarnya sudah berkurang lantaran ia sempat melakukan aksi taking profit untuk keperluan pribadi.

Pengalaman bekerja sebagai fund manager cukup membantu Dimas dalam mengelola portofolio investasi pribadinya. Dimas terlatih untuk berpikir secara kalkulatif dan senantiasa memanfaatkan data dalam membuat keputusan investasi.

Sehingga, keputusan investasi dibuat dengan rasional dan minim emosi. Tak heran, ketika pasar sedang bergejolak, ia tidak panik dan justru bisa melihat peluang untuk masuk.

Rencananya ke depan, Dimas bakal tetap fokus dengan investasi reksadana. Menurutnya pasar modal Indonesia masih memiliki prospek yang menjanjikan, mengingat posisi ekonomi Indonesia yang sedang dalam proses transisi dari stabilitas menuju pertumbuhan.

Dampaknya, instrumen berbasis saham akan menjadi lebih menarik. Selain itu, pasar obligasi juga masih tetap relevan, meski potensi pertumbuhannya akan lebih terbatas dibanding saham.

Tak ketinggalan, Dimas juga memberikan pesan kepada investor pemula agar aktif melakukan riset terkait keuangan personal sebelum benar-benar berinvestasi. Riset ini juga berguna agar investor tidak terjebak pada pola pikir investasi ikut-ikutan alias FOMO.

Di samping itu, jika ingin investasi reksadana, investor harus paham rekam jejak manajer investasi yang dituju.

komentar