KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana mulai menunjukkan perbaikan pada April 2026. Namun, penguatan yang terjadi belum cukup untuk mengangkat performa secara tahun berjalan atau year to date (ytd) yang masih tertekan. 

Berdasarkan data Infovesta, reksadana saham mencatat kenaikan kinerja tertinggi sebesar 0,86% secara month-on-month (mom) per 30 April 2026. Namun, reksdana saham masih mengalami koreksi hingga 8,30% secara ytd.

Reksadana pendapatan tetap naik 0,37% secara mom, tetapi turun 0,84% secara ytd. Reksadana campuran menguat 0,34% secara mom, namun masih minus 3,77% ytd. Sementara itu, reksadana pasar uang mencatatkan kenaikan 0,32% mom dan masih positif 1,33% secara ytd.

Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Genta Wira Anjalu menilai,  kenaikan reksadana saham pada April lebih banyak didorong oleh technical rebound setelah koreksi pada bulan sebelumnya.

Sentimen pasar juga membaik seiring ekspektasi tekanan suku bunga global mulai lebih stabil.  "Meskipun investor masih mencermati arah kebijakan bunga acuan Federal Reserve dan pergerakan rupiah," ujar Genta, Senin (4/5). 

Baca Juga: Ada Insentif Fiskal, Reksadana Bisa Mekar

Namun SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPMA), Reza Fahmi Riawan menilai, pergerakan pada reksadana saham lebih bersifat rebalancing dan selektif, bukan perubahan tren yang sepenuhnya baru.

Sementara kinerja reksadana pendapatan tetap cenderung terbatas seiring pergerakan pasar obligasi yang masih berhati-hati. Penurunan yield obligasi memang memberikan sentimen positif, tetapi ruang penguatan dinilai belum besar.

Investor masih mempertimbangkan sejumlah risiko, mulai dari tekanan nilai tukar, inflasi, arah suku bunga global, hingga kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah.

"Kondisi suku bunga yang stabil membuat potensi capital gain obligasi belum terlalu agresif," ujar Genta.

Sinarmas Asset Management tetap mengedepankan pendekatan selektif berbasis fundamental, termasuk dengan dukungan analisis berbasis kecerdasan buatan (AI).

"Kami fokus pada saham dengan neraca kuat, arus kas sehat, valuasi menarik, serta prospek pertumbuhan laba yang solid pada sektor berbasis komoditas seperti energi, emas, dan CPO," ujar Genta.

Reza melihat, pergerakan reksadana ke depan kemungkinan akan lebih selektif antar sektor dan instrumen, dengan potensi koreksi jangka pendek tetap menjadi bagian dari dinamika pasar.

Dengan asumsi kondisi pasar relatif stabil hingga akhir tahun, estimasi return 12 bulan ke depan untuk reksadana pasar uang  sebesar 4% - 5%, reksadana pendapatan tetap sebesar 5% - 7%, reksadana campuran sebesar 7& - 10%, dan reksadana saham sebesar 8% - 12%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total dana kelolaan reksadana masih naik 5,47% ytd menjadi Rp 694,72 triliun per April 2026.
 

komentar