KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Di tengah tren penguatan dolar Amerika Serikat (AS)  terhadap semua mata uang dunia termasuk rupiah, menarik berinvestasi dalam mata uang ini. Dengan potensi penurunan suku bunga bank sentral AS alias The Fed yang lebih terbatas dan pertumbuhan ekonomi AS yang masih positif, diperkirakan mata uang dolar AS masih akan kuat dan bahkan dapat kembali terapresiasi.

Lalu bagaimana tren investasi dalam mata uang ini pada reksadana?  Bila kita bicara tentang instrumen dolar AS yang tersedia bagi investor di Indonesia belum banyak. Umumnya saat ini adalah deposito dolar AS.

Sama seperti deposito rupiah, deposito dolar AS juga dijamin Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) dengan suku bunga penjaminan sebesar 2% dan bunganya kena pajak penghasilan sebesar 20%. 

Alternatif berikutnya yaitu obligasi dolar AS yang mampu memberikan kupon mulai dari 3%. Menariknya untuk investasi pada obligasi negara Republik Indonesia yang berbasis dolar AS, pajaknya 0%. Untuk investor yang menginginkan potensi kinerja lebih tinggi dapat melirik reksadana syariah global yang boleh hingga 100% investasi di luar negeri.

Saat ini terdapat puluhan reksadana berdenominasi dollar dengan dana kelolaan yang terus bertambah signifikan. Jumlah memang masih relatif kecil dibandingkan dengan total dana kelolaan reksadana rupiah yang mencapai Rp 700 triliun. Namun tentu saja reksadana dollar memiliki tujuan investasi yang berbeda dengan reksadana rupiah.

Cukup menarik bahwa reksadana dengan pertumbuhan dana kelolaan tertinggi didominasi oleh jenis pendapatan tetap dan pasar uang, menunjukkan minat investor yang kuat pada instrumen dolar AS yang lebih stabil dan likuid di tengah volatilitas pasar. 

Baca Juga: Penuh Ketidakpastian, Kinerja Reksadana Belum Maksimal di April 2026

Minat terbesar terlihat pada BNP Paribas Prima USD (pendapatan tetap) yang mencatat pertumbuhan asset under management (AUM) lebih dari 82%. Menyusul Manulife Liquid Fund USD (pasar uang) dengan lonjakan luar biasa, yakni lebih dari 372%.

Reksadana jenis Global Sharia Equity Fund juga menarik perhatian. Terutama Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS yang tidak hanya tumbuh 43% dalam AUM, juga mencatat return year to date (ytd) tertinggi sebesar 27,52%. Ini menunjukkan,  meski fokus pada stabilitas, investor tetap mencari potensi imbal hasil tinggi melalui eksposur global, termasuk sektor teknologi dan Asia Pasifik. 

Beberapa reksadana seperti Sucorinvest Money Market USD dan UOBAM Global Sharia Balanced Fund USD mencatatkan persentase pertumbuhan yang sangat tinggi, meski dari basis AUM terlihat lebih kecil.

Dari sisi kinerja return, reksadana dengan eksposur saham global dan syariah menunjukkan performa yang solid, memberikan diversifikasi yang menarik bagi investor Indonesia.

Harap diingat, reksadana dolar mengandung risiko nilai tukar yaitu risiko yang ditimbulkan dari perubahan kurs. Kerugian yang lebih dalam dapat terjadi ketika melakukan pembelian rupiah yang didapatkan dapat lebih rendah saat rupiah sedang menguat dan potensi kerugian kurs ketika dikonversi ulang ke dolar AS dapat lebih rendah jika dolar sedang menguat. 

Baca Juga: Arah Reksadana Campuran Menanti Kebijakan Bunga Acuan

Sebagai gambaran, fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan, depresiasi rupiah dapat memberikan tambahan keuntungan bagi investor saat mencairkan investasi ke dalam rupiah.

Artinya reksadana yang kinerjanya negatif bisa jadi justru positif ketika dicairkan dalam bentuk rupiah karena penguatan dolar year to date sudah menguat 5%.

Berinvestasi pada reksadana jenis ini menarik, meski tentu saja dibutuhkan pemahaman risiko yang lebih ekstra, baik untuk investor dan juga dari sisi pengelolaan oleh manajer investasi. Mengingat potensi risiko investasi di luar negeri jelas lebih kompleks dari investasi di dalam negeri. 

Investasi dalam valuta asing cocok bagi investor yang memang membutuhkan dana dalam mata uang tersebut. Misalnya untuk biaya pendidikan anak ke luar negeri.

Salah satu hal  menarik dari reksadana dolar,  kesempatan  masuk ke sektor-sektor global seperti teknologi dan Asia Pasifik yang saat ini masih relatif kecil di dalam negeri. Sehingga dapat menjadi diversifikasi untuk investasi saham dalam negeri yang besar pada sektor keuangan.

Investor yang memutuskan untuk berinvestasi diharapkan memiliki tujuan dan time frame investasi serta memahami risiko yang terkandung di dalamnya.       
 

komentar