KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana saham offshore, khususnya saham-saham di Amerika Serikat (AS), diperkirakan memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan reksadana saham dalam negeri. 

Head of Business Development Division PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi menyebutkan, penguatan dolar AS dan kinerja saham AS menjadi katalis positif. Penguatan kurs dolar AS meningkatkan nilai investasi dalam mata uang lokal. Sementara kinerja saham-saham AS yang solid memberikan potensi return yang lebih tinggi.

"Prospek ke depan juga terlihat positif, terutama didorong oleh tren penurunan suku bunga yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan pasar saham AS," ujarnya, Minggu (17/11).

Dus, imbal hasil reksadana saham offshore berpotensi mengungguli reksadana saham dalam negeri.

Ambil contoh, kinerja Panin Global Sharia Equity Fund yang naik 18,17% sepanjang tahun ini. Kinerja itu mengungguli reksadana saham dalam negeri lain. 

Baca Juga: Memanfaatkan Cuan Reksadana dengan Fitur Dividen

Berdasarkan fund factsheet per 31 Oktober 2024, portofolio produk tersebut komposisi terbesarnya berisi saham dari sektor teknologi sebesar 22,62% dan disusul sektor kesehatan sebesar 22,06%.

Direktur Panin Asset Management (Panin AM), Rudiyanto menuturkan,  secara historis pergantian presiden umumnya mendorong harga saham naik.

Lalu, dibandingkan dengan produk berdenominasi dolar AS yang investasi di saham Asia, produk reksadana yang berinvestasi pada saham AS juga lebih unggul. Misalnya, Mandiri Global Sharia Equity Dollar (MGSED)-Kelas A yang naik sebesar 15,40% sejak awal tahun ini. 

Sementara Mandiri Asia Sharia Equity Dollar (MASED)-Kelas A dan Mandiri Asia Sharia Equity Dollar (MASED)-Kelas B, masing-masing turun 6,75% dan turun 4,51% sejak awal tahun.

Reza menyarankan, investor perlu memperhatikan reksadana yang memiliki portofolio saham dengan fundamental kuat dan potensi pertumbuhan tinggi, seperti saham teknologi di AS.

Lalu, pahami pula historikal kinerja untuk memahami kinerja produk tersebut dalam berbagai kondisi pasar. Selanjutnya, diversifikasi untuk mengurangi risiko.

"Data Infovesta menunjukkan hanya ada delapan reksadana offshore yang minus,  yakni antara minus 3,46% hingga minus 0,08% secara year to date (ytd). Sedangkan 18 reksadana offshore lainnya positif," papar Parto Kawito, Direktur Infovesta Utama.
 

komentar