KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pada awal tahun ini beragam. Berdasarkan data Infovesta, reksadana pasar uang mencetak kinerja tertinggi yakni 0,42% per 30 Januari 2026 dibanding 30 Desember 2025. Menyusul reksadana campuran dengan return 0,17%. 

Sementara reksadana pendapatan tetap minus 0,09% dan reksadana saham mencetak return paling rendah yakni minus 0,50%. Rupanya ikut tersengat kisruh MSCI.  Meski begitu kinerja reksaana saham masih di atas kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi 3,67% sepanjang Januari 2026. 

Direktur Bahana TCW Inestment Management, Danica Adhitama mengatakan, outlook ekonomi Indonesia tahun 2026 terlihat optimistis meski diwarnai ketidakpastian global. 

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% hingga 6%, didorong oleh penguatan konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB), stabilitas makroekonomi, dan inflasi yang ditargetkan di bawah 3,5%.

Dari sisi moneter, penurunan suku bunga masih terbuka meski akan cukup terbatas dibanding 2025. Di tengah ketegangan geopolitik global yang meningkat, Bank Indonesia (BI diprediksi akan fokus pada menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Danica melihat reksadana saham masih menjadi unggulan bagi investor dengan profil risiko tinggi. Ia memproyeksi return reksadana saham dapat mencapai di atas 10% per tahun jika pertumbuhan ekonomi dan laba emiten terus membaik. Adapun sepanjang 2025 lalu, reksadana saham mencetak return tertinggi dibanding reksadana jenis lainnya, yakni 20,84%.

Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution, Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi Riawan menambahkan, bagi investor dengan horizon jangka panjang, reksadana saham berpotensi diuntungkan ketika pasar mulai repricing dan sentimen berangsur membaik. 

Sinyal pelonggaran suku bunga global dan domestik jadi katalis positif. “Perspektif jangka menengah hingga panjang, koreksi membuka ruang valuasi lebih menarik,” jelas Reza, Selasa (3/2).
 

Selanjutnya: Pertumbuhan vs Inflasi

komentar