KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Industri reksadana Indonesia sepanjang  2025 mengalami pertumbuhan cukup pesat. Dana kelolaan atau assets under management (AUM) mencapai all time high sebesar Rp 648 triliun pada Desember 2025. Realisasi itu naik signifikan dari Rp 492 triliun di Desember 2024, atau tumbuh 31,78% atau naik sebesar Rp 156 triliun.

Dana kelolaan rebound dari titik terendah Rp 476 triliun pada April 2025. Ini sebelum meroket di separuh kedua tahun lalu didorong penurunan suku bunga dan minat investor ritel yang melejit.

Pertumbuhan AUM terus berlanjut di 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, AUM mencapai Rp 1.089,64 triliun per pekan pertama Februari 2026. Pertumbuhan juga tercermin dari Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana per 5 Februari 2026 yang tercatat Rp 722,21 triliun, tumbuh 2,98% month to date (mtd) dan tumbuh 6,94% year to date (ytd).

Sejumlah manajer investasi (MI) pun cukup optimistis memasang target dana kelolaan tahun ini, meski gejolak pasar keuangan saat ini masih tinggi.  PT Panin Asset Management (Panin AM) misalnya, menargetkan dana kelolaan reksadana dapat mencapai Rp 17 triliun pada 2026. Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 14,4 triliun.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto menyebut, kenaikan AUM reksadana tersebut salah satunya didorong oleh peningkatan reksadana terproteksi serta kenaikan subscription pada sejumlah produk reksadana lain.

Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi melihat, meskipun peluang di pasar saham mulai terlihat lebih menarik tahun ini, preferensi investor masih cenderung mengarah ke instrumen yang lebih defensif.

"Batavia AM menargetkan pertumbuhan dana kelolaan dua digit pada tahun ini. Sebagai gambaran, total dana kelolaan Batavia AM pada tahun lalu tercatat sebesar Rp 49,5 triliun," ujarnya Eri, Selasa (10/2).

Adapun PT BNP Paribas Asset Management membidik pertumbuhan AUM reksadana sekitar 10% sepanjang tahun 2026. 

Direktur Investasi PT BNP Paribas Asset Management Djumala Sutedja mengungkapkan, pada 2025 total AUM reksadana dan Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) yang dibukukan perusahaan ini mencapai Rp 34,95 triliun.

"Dukungan kebijakan moneter dan fiskal, baik dari dalam negeri maupun global dan perluasan basis investor ritel serta inovasi produk yang semakin sesuai dengan kebutuhan pasar turut menjadi pendorong pertumbuhan AUM tahun ini," ujar Djumala, Rabu (11/2).

Meski isu penurunan bobot saham Indonesia di indeks MSCI dan perubahan outlook Moody’s sempat memicu volatilitas jangka pendek di pasar keuangan.

Tapi itu berpotensi mendorong perbaikan struktural pasar yang mendukung pertumbuhan industri reksadana dalam jangka menengah hingga panjang.

SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan menambahkan, tren dana kelolaan terbesar saat ini masih didominasi reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. 

Kedua jenis ini menawarkan kombinasi likuiditas, profil risiko yang relatif terjaga, serta potensi imbal hasil yang kompetitif. Ini cocok bagi investor baru maupun investor yang mengelola kebutuhan kas jangka pendek hingga menengah.
 

Selanjutnya: Sayang Konglomerat

komentar