Reksadana ESG kerap menjadi pilihan bagi investor yang ingin menyelaraskan tujuan finansial dengan kepedulian terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Instrumen ini juga menjadi ruang bagi investor bukan hanya mengejar cuan, tetapi bagaimana keuntungan dihasilkan.
Mandiri Manajemen Investasi (MMI) salah satunya yang menawarkan produk reksadana bertema ESG. Kedua produk reksadana MMI yang bertema environmental, social, and governance (ESG): Mandiri Indeks FTSE Indonesia ESG serta Mandiri ETF Sri-Kehati.
Ernawan R. Salimsyah, Executive Director dan Chief Investment Officer (CIO) Mandiri Manajemen Investasi, menjelaskan, kedua produk itu merupakan reksadana indeks. Jadi, reksadana ini diracik MMI menyerupai indeks acuan. Sehingga, kinerjanya sejalan.
Untuk reksadana Mandiri Indeks FTSE Indonesia ESG, mengacu pada indeks FTSE Indonesia ESG. Dengan begitu, hasil investasi reksadana ini bisa setara dengan indeks besutan FTSE Russell itu.
Jadi, portofolio reksadana ini terdiri dari saham-saham yang tergabung dalam indeks FTSE Indonesia ESG. Footsie memilih saham-saham tersebut berdasarkan kriteria ESG dengan lebih dari 300 indikator.
FTSE Indonesia ESG saat ini terdiri dari 33 saham pilihan. Sepuluh saham terbesarnya, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), memiliki bobot sampai 81,26% terhadap indeks.
Dalam fund fact sheet reksadana Mandiri Indeks FTSE Indonesia ESG tertulis, kebijakan investasi di efek bersifat ekuitas atau saham minimal 80%. Sedang pasar uang atau deposito maksimal sebesar 20%.
Per November 2025, MMI menempatkan investasinya di saham sebanyak 99,65%. Sedangkan sisanya yang tak sampai 1% di deposito. Saham pilihannya terutama di bank besar dengan porsi sektor keuangan, sampai 50,29% dari portofolio reksadana Indeks Mandiri FTSE Indonesia ESG.
Senada, reksadana indeks Mandiri ETF Sri-Kehati bertujuan memberikan hasil investasi yang setara dengan kinerja dari Indeks Sri-Kehati.
Indeks Sri-Kehati merupakan indeks yang dikembangkan Bursa Efek Indonesia bersama Yayasan Kehati. Isinya ada 25 perusahaan dengan penilaian terbaik untuk sustainable responsible investment (SRI).
Penempatan portofolio reksadana tersebut, 96,35% di saham-saham dalam Indeks Sri-Kehati. Sementara sisanya di deposito. Saham-saham pilihan Mandiri ETF Sri-Kehati paling besar di saham PT Astra International Tbk (ASII), BBCA, BMRI, dan BBRI.
Return lebih tinggi
Sebagai reksadana indeks, return reksadana MMI terbatas sekitar performa indeks acuan.
"Dana dikelola bukan supaya menang terhadap acuan, tetapi karena indexing, jadi mengikuti indeks," kata Awan.
Pun kinerja reksadana kelolaan MMI memberi return lebih baik, itu karena memasukkan perolehan dividen. Sementara indeks acuan biasanya hanya menghitung pergerakan harga saham (price return).
Mengintip reksadana ESG besutan MMI, memang keduanya memberi return lebih besar ketimbang indeks acuan.
Mengutip Bloomberg, Mandiri FTSE Indonesia ESG memberikan return 3,75% sepanjang tahun ini atau year to date hingga 30 Desember 2025. Kinerjanya lebih oke dibanding indeks acuan, FTSE Indonesia ESG dengan return hanya 0,3% di periode yang sama.
Begitu juga Mandiri ETF Sri-Kehati yang menyodorkan return 6,38% ytd. Sementara Indeks Sri Kehati di bursa tercatat memberi return 2,52%.
Sherly Sinita, Office Administrator Zap Finance, mengatakan, ada beberapa kelebihan memilih instrumen investasi reksadana ESG. Investor yang cocok dengan instrumen ini yang berorientasi jangka menengah hingga panjang, serta yang ingin investasinya "bermakna", bukan sekadar cari cuan.
Menurut dia, perusahaan dengan skor ESG baik cenderung lebih tahan krisis, terutama saat terjadi gejolak ekonomi. Ini karena bisnisnya lebih berkelanjutan dan adaptif.
Dalam memilih portofolio, manajer investasi tidak hanya melihat kinerja keuangan, tapi juga dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola. Sehingga, portofolio umumnya berisi perusahaan dengan kualitas fundamental lebih baik.
Kelebihan lain investasi ESG yaitu sambil "berkontribusi" karena uang dialokasikan ke perusahaan yang lebih peduli lingkungan, memperhatikan hak pekerja dan sosial, serta dikelola secara etis.
Meski berisi saham-saham pilihan, kedua produk reksadana ESG MMI tersebut memiliki tingkat risiko tinggi.
Faktor risiko utama yang bisa memengaruhi kinerja reksadana antara lain, risiko perubahan kondisi ekonomi dan politik, risiko wanprestasi, serta risiko likuiditas. Selain itu, risiko penyesuaian portofolio efek dengan indeks acuan serta risiko terkait dengan indeks acuan yakni FTSE Indonesia ESG maupun Sri-Kehati.
Sherly menambahkan, pada reksadana ESG ada juga risiko return yang tidak bisa mengimbangi laju pasar modal. Seperti sekarang, saat pasar sedang bullish agresif, reksadana ESG bisa kalah cepat dibandingkan dengan reksadana konvensional atau indeks luas.
Ini karena seleksi emiten ESG lebih ketat, beberapa sektor besar bisa tidak masuk. Ini terlihat dari return Sri-Kehati yang tertinggal jauh dibanding Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak return 22,13% year to date.
Memang, jika melihat penggerak IHSG sepanjang tahun lalu, tidak banyak saham yang masuk dalam indeks Sri-Kehati atau FTSE Indonesia ESG.
Dari 10 top leaders, saham yang masuk indeks ESG hanya BRPT, TLKM, dan ASII. Sementara saham bank besar yang menjadi penggerak indeks ESG, merosot sepanjang 2025.
Selain itu, Sherly mengungkapkan, pilihan saham ESG di Indonesia masih relatif terbatas. Jadi, diversifikasi tidak selebar reksadana non-ESG.
"Risiko pasar tetap berpengaruh, seperti penurunan IHSG, suku bunga naik, krisis global, sentimen asing," ungkapnya.
Skoring ESG
Meski hanya memiliki dua produk bertema ESG, Awan membeberkan, MMI merangkul poin-poin ESG dalam semua proses investasi. Baik ketika berinvestasi di instrumen saham, fixed income, pasar uang, maupun yang lainnya.
"Bukan hanya di produk, kami juga embrace ESG dalam proses investasi," imbuhnya.
MMI melakukan penilaian atau scoring sendiri terkait lingkungan, tanggungjawab sosial, dan tata kelola. Istilahnya, company score. Panduan ini memudahkan MMI memilih portofolio saham yang menerapkan ESG lebih baik.
"Misalnya, untuk menentukan saham pertambangan, tentu membingungkan. Soalnya, mereka (perusahaan) melakukan penambangan tapi ada langkah-langkah ESG," kata dia.
Untuk mendapatkan ESG company score tersebut, MMI mengolah informasi dari pihak ketiga yang kompeten dan mengolahnya dengan informasi yang mereka dapatkan. Barulah, dibandingkan lagi dengan kondisi fundamental emiten.
Bentuk skoringnya seperti kuadran. Company score yang memuat penilaian ESG ada di bagian sumbu vertikal. Sedangkan stock score yang menilai fundamental emiten ada di sumbu absis horisontal.
"Kami suka sama perusahaan yang ada di kanan atas," ucap Awan menerangkan.
Ini artinya, MMI akan memilih perusahaan-perusahaan dengan pengelolaan ESG yang baik, tapi disertai juga dengan fundamental yang kuat. Alasan MMI jelas, perusahaan dengan skor baik menandakan keberlanjutan bisnis mereka.
Yang MMI lihat sebenarnya ada di tiga pilar, yaitu kekuatan finansial, penciptaan nilai (value creation), serta penciptaan nilai yang berkelanjutan (sustainable value creation).
Dari sini, akan terlihat bagaimana tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat, dan bagaimana operasional mereka lakukan sesuai tata kelola yang baik.
Selain itu, MMI juga kerap berkomunikasi langsung dengan manajemen perusahaan untuk mengetahui langkah ke depan mereka seperti apa, termasuk perbaikan ESG.
"Yang seperti ini juga kami suka, sesuai dengan filosofi kami, yakni detect early, invest wisely, and perform sustainably," ungkap Awan.
Sherly menilai, pembuatan skoring ESG bagi underlying portofolio merupakan langkah strategis yang positif. Asalkan, dilakukan dengan disiplin dan transparansi. Keuntungan dari skoring ini antara lain MI bisa melakukan seleksi saham lebih ketat dan berkualitas, menghindari praktik greenwashing, serta memberikan risk-adjusted return lebih baik.
Prospek mendatang
Meski kinerjanya terlihat jauh lebih tertinggal dibanding IHSG, Awan menilai, prospek reksadana ESG masih kuat. Salah satu pendorongnya adalah potensi permintaan tetap tinggi, terutama dari investor institusi asing yang biasanya terikat mandat investasi ESG. Ini membuat alokasi ke aset ESG cenderung lebih stabil dan bukan bersifat jangka pendek.
Investor asing terutama Eropa bagian utara dan Amerika bagian utara, akan terimbas negatif ketika terjadi pemanasan global. Mencairnya es di kutub berpotensi membawa bencana, sehingga barang semakin mahal dan mengerek inflasi. Oleh karena itu, asing akan mendorong negara-negara di khatulistiwa seperti Indonesia untuk menjaga lingkungan.
Hutan tropis, lahan gambut, dan mangrove seperti yang ada di Indonesia, mampu menyerap karbon. Sebaliknya, deforestasi dan kebakaran hutan menjadi penyumbang emisi besar yang kemudian mendorong terjadi perubahan iklim.
Memang, Awan mengakui, permintaan produk ESG belum jadi prioritas bagi investor domestik. Menurut dia, investor domestik sudah sadar, tetapi lebih mengutamakan performa kinerja produk alias return.
Ketika indeks Sri-Kehati diluncurkan sejak 2009 hingga 2020, menurut Awan, kinerja nya unggul. Di sinilah, indeks ESG menarik perhatian investor dalam negeri. Belakangan, perhatian tersebut meredup seiring pergeseran ke saham-saham non-ESG yang memberikan return agresif.
Pendorong prospek investasi ESG lainnya dari fundamental emiten yang menjadi underlying investasi ESG lebih stabil lantaran mereka menunjukkan keinginan untuk berkelanjutan. Dengan begitu, akan tetap jangan lingkungan dan tanggungjawab sosial. Mereka juga akan menerapkan tata kelola untuk melakukan mitigasi masalah di masa mendatang.
Selain itu, prospek investasi ESG juga terkait saham-saham bluechip. Banyak saham pengisi indeks ESG dari kelompok keping biru ini harganya sudah terdiskon sehingga valuasinya menarik. Saham-saham bluechip juga biasanya diuntungkan dari aksi window dressing yang terjadi di akhir 2025.
Tidak hanya itu, saham bluechip juga punya daya tarik tersendiri di musim pembagian dividen. Hal ini akan memicu aksi beli saham di kuartal pertama 2026. Ditambah, potensi pemangkasan bunga acuan lebih lanjut di pasar global maupun oleh Bank Indonesia (BI) bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, yang menjadi bahan bakar pasar saham.
Hanya, Awan mengingatkan, volatilitas lebih tinggi di 2026. Pemicunya datang dari pasar global maupun domestik. Dari pasar global antara lain berasal dari tensi geopolitik yang belum usai. Sedangkan sumber fluktuasi dari pasar domestik antara lain dari penerapan program prioritas pemerintah.
"Selain itu, kondisi politik dalam negeri perlu juga dicermati, karena biasanya sulit diprediksi oleh pasar modal," ungkap Awan.
Ketika market bullish sementara volatilitas meningkat, Awan menyarankan investor melakukan diversifikasi. Jangan terlalu optimistis pada satu atau dua saham saja. Pembelian reksadana yang berisi racikan saham, pasar uang, dan aset fixed income bisa jadi pilihan.
Tentu saja, investor boleh memilih membeli langsung saham-saham di bursa ketimbang membeli reksadana ESG.
"Tergantung investornya, bisa menerima volatilitas atau tidak," sebut Awan.
Kelebihan investasi di reksadana lainnya adalah tidak membutuhkan biaya sebesar belanja saham. Untuk membeli saham Mandiri Indeks FTSE Indonesia ESG atau Mandiri ETF Sri-Kehati, misalnya, hanya butuh dana mulai Rp 100.000.
"Dengan reksadana ESG, investor bisa membeli langsung 25 saham yang ada di Indeks Sri-Kehati," kata Awan.
Sherly melihat, ada sejumlah cara agar investor bisa mendapat return terbaik saat berinvestasi di reksadana ESG. Antara lain, maksimalkan lewat investasi secara berkala atau dollar cost averaging. Jangan juga menargetkan investasi untuk jangka pendek saja.
Selanjutnya, investor bisa memilih produk-produk reksadana ESG yang bukan berupa reksadana indeks.
"Return reksadana indeks mentok di indeks," ujarnya.
Nah, investor bisa memilih produk reksadana aktif lainnya atau active ESG fund, di mana MI bisa menempatkan lebih berat atau overweight saham tertentu. Hal ini membuka peluang MI lebih lincah mencari saham pemberi return lebih baik.
