KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reksadana syariah menunjukkan kinerja impresif sepanjang tahun 2025. Dana kelolaan mencapai Rp 69,46 triliun pada Desember. Naik 74,33% dari Rp 39,84 triliun di Desember 2024, tumbuh Rp 29,62 triliun.
Pertumbuhan ini sejalan bangkitnya industri reksadana secara keseluruhan yang mencapai all time high Rp 648 triliun. Pendorongnya minat investor ritel dan penurunan suku bunga.
Meski kinerja reksadana syariah unggul di berbagai kelas aset dana kelolaan, saham syariah justru turun tipis. Bisa jadi mencerminkan profit taking investor di tengah kinerja tinggi. Kilas balik ini menunjukkan potensi syariah sebagai alternatif investasi halal yang resilien dan diminati oleh masyarakat.
Reksadana syariah mengikuti prinsip Islam, yaitu menghindari riba gharar dan maysir dengan fokus pada aset halal seperti sukuk dan saham syariah. Meski dikelola sesuai syariat Islam, reksadana ini tetap terbuka untuk umum.
Kinerjanya cemerlang. Per Desember 2025 ada 270 produk reksadana berbasis syariah. Kinerja 2025 sangat baik. Reksadana saham syariah naik 35% di atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 22% dan saham konvensional 20%.
Campuran syariah 17%, konvensional 14%, fixed income syariah 8%, konvensional 7,2% dan pasar uang syariah 4,8%, konvensional 4,7%.
Baca Juga: Meminjam Istilah Trump, Industri Reksadana Jalani Tremendous Year di Tahun 2025
Kinerja tinggi saham syariah sejalan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang naik 43%. Pendorongnya sektor energi dan batubara, seperti ADRO, PTBA, ITMG yang rebound 25%-30%.
Lalu emiten energi baru dan terbaruka (EBT) seperti BREN MDKA naik 40% berkat kebijakan transisi energi dan subsidi pemerintah.
dana kelolaan alias asset under management (AUM) syariah secara keseluruhan 74,33% dengan nominal Rp 29,61 triliun.
Menunjukkan minat investor pada aset halal. Tapi tantangan di saham syariah adalah likuiditas lebih rendah dan diversifikasi terbatas karena emiten syariah lebih sedikit. Meski kinerja saham syariah tinggi AUM turun tipis.
Penyebabnya, profit taking investor memanfaatkan lonjakan harga untuk realisasi keuntungan. Kontras dengan fixed income syariah yang tumbuh kuat karena suku bunga rendah..
Jenis pendapatan tetap dan pasar uang syariah menjadi favorit investor. Didukung oleh kinerja yang sangat baik. Prinsip pareto berlaku di 2025 karena pertumbuhan 10 reksadana syariah ini mencakup 85% dari pertumbuhan industri reksadana syariah.
Di tengah tantangan industri reksadana, manajer investasi berinovasi dan mengembangkan produk mampu bersaing dan tumbuh. Kita berharap industri reksadana terus tumbuh seiring minat investor yang pulih.
