KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan positif seiring dengan nilai tukar dolar AS yang terus menguat.

Penguatan dolar AS akan membawa dampak positif kepada investor yang berinvestasi pada aset-aset berbasis mata uang dolar. Seperti obligasi korporasi AS, saham-saham AS, atau instrumen pasar uang global.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 17 April 2026, reksadana  offshore dengan return tertinggi adalah Eastspring Syariah Equity Islamic Asia Pacific USD Kelas A dengan kinerja mencapai 123,85%  secara year-on-year (yoy). Dalam fund fact sheet per Maret 2026, komposisi portofolio terbesar pada saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) sebesar 18,93%. Kemudian pada Samsung Electronics Co. sebesar 11%.

Return terbesar kedua dimiliki KISI Global Sharia Transformative Technology Equity Fund USD dengan return 77,46% yoy. Posisi ketiga Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS, dengan imbal hasil 66,68% yoy.

Sementara BNP Paribas DJIM Global Technology Titans 50 Syariah USD mencetak return 53,8% yoy. Komposisi portofolio terbesar pada Nvidia Corp sebesar 17,45% dan Apple Inc. sebesar 15,34% per Maret 2026.

Head Equity PT BNP Paribas Asset Management Amica Darmawan menyebut, sejatinya kinerja reksadana dolar sangat bergantung pada jenis aset dan eksposur global yang dimilikinya. Namun, secara umum, dalam beberapa tahun terakhir reksadana dolar cenderung mencatat kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan reksadana rupiah.

"Hal ini ditopang kombinasi pergerakan nilai tukar serta kinerja aset global, khususnya saham offshore, yang memiliki eksposur lebih besar terhadap tema pertumbuhan struktural jangka panjang seperti teknologi dan kecerdasan buatan (AI)," ujar Amica, Rabu (22/4).

Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Eri Kusnadi justru berpandangan, reksadana dolar yang memiliki underlying asset dalam denominasi dolar AS tidak terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.

"Kinerja reksadana tersebut lebih dipengaruhi oleh kinerja aset dasarnya. Pengaruh nilai tukar baru akan terasa jika investor menghitung kinerja investasi dalam rupiah,” ujar Eri.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto menjelaskan, dari sisi risiko, di tengah kondisi pasar global saat ini,  tekanan terhadap kinerja reksadana dolar lebih banyak terjadi pada produk berbasis obligasi, karena inflasi naik. 

Adapun saham sektor teknologi dan AI masih menjadi pendorong utama kinerja reksadana ini. Seiring fundamental perusahaan yang kuat serta tren pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.
 

komentar