KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana campuran berada di bawah tekanan. Ini seiring pasar saham domestik yang diombang-ambing ketidakpastian geopolitik, ekonomi global, dan domestik.
Berdasarkan data Infovesta Utama per akhir Maret 2026, return indeks reksadana campuran minus 4,1% secara year to date (YtD) dan minus 5,62 secara month to month (MtM).
Meski begitu, sejumlah reksadana masih mampu mencetak return positif. Pinnacle Winner Balanced Fund besutan Pinnacle Investment, misalnya, bisa mencatatkan imbal hasil positif 3,09% YtD, meski terkoreksi 2,95% dalam sebulan terakhir.
Alokasi portofolio produk ini didominasi oleh instrumen ekuitas sebesar 79,12%. Sementara itu, porsi pasar uang mencapai 19,84% dan pendapatan tetap cuma 1,04%.
Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment mengatakan, peningkatan porsi saham secara bertahap dari Januari yang hanya sekitar 30% terbukti menjadi strategi yang cukup berhasil. Tambahan eksposur di ekuitas didorong oleh koreksi pasar sejak akhir Januari hingga April.
Penentuan alokasi melalui kombinasi analisis top-down terhadap kondisi makroekonomi dan pendekatan bottom-up dalam pemilihan saham.
Deretan saham di keranjang produk ini antara lain saham BMRI sekitar 9%, ICBP sekitar 9%, BABP sebesar 8,9%, BBCA sekitar 8,8%, serta INDF sebesar 8,7%.
"Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis kuantitatif, kami melihat adanya peluang risk-reward yang menarik di pasar ekuitas, sehingga eksposur kami tingkatkan secara terukur," kata Guntur.
Sementara produk Simas Syariah Berkembang milik Sinarmas Asset Management mencatatkan penurunan yang lebih terbatas, yakni minus 0,32% MoM tetapi masih tumbuh 8,65% YtD.
Mengacu fund fact sheet per Maret 2026, portofolio Simas Syariah Berkembang didominasi instrumen pasar uang sebesar 86,8%, alokasi di SBSN dan sukuk korporasi 8,6%, serta efek ekuitas syariah 2,3%.
Triwira Tjandra, Deputy CIO Sinarmas Asset Management menjelaskan, porsi besar pada pasar uang merupakan bagian dari strategi defensif di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
"Pada periode tersebut kami melihat volatilitas pasar yang masih cukup tinggi serta adanya ketidakpastian terkait arah suku bunga global dan domestik," ujar Wira.
Wira menambahkan, instrumen pasar uang syariah dipilih untuk menjaga stabilitas nilai aktiva bersih (NAB) sekaligus memberikan fleksibilitas dalam penyesuaian portofolio saat peluang investasi yang lebih optimal muncul.
SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan, mengatakan, performa reksadana campuran pada kuartal II-2026 akan ditentukan oleh arah kebijakan makro dan dinamika lintas aset.
Pasar saat ini sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga, baik global maupun domestik. Sebab perubahan ekspektasi akan langsung memengaruhi valuasi saham dan obligasi.
Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dan pergerakan arus dana asing menjadi faktor penting bagi pergerakan saham dan obligasi. Dus, Reza memproyeksi return reksadana campuran tahun ini ada di kisaran 7%–10%.
