KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas reksadana menghasilkan kinerja yang tak memuaskan di kuartal I-2026. Reksadana saham bahkan mencatatkan koreksi terdalam. Pendorongnya, perubahan cepat sentimen pasar seiring kondisi geopolitik dan ekonomi domestik.
Data Infovesta mencatat, per 31 Maret 2026, kinerja reksadana saham merosot sebesar -10,43% secara bulanan (MoM), disusul reksadana campuran minus 5,62% MoM, dan reksadana pendapatan tetap terkoreksi -1,40% MoM.Sementara itu, reksadana pasar uang masih mencatatkan kinerja positif 0,29% MoM.
Jika dihitung sejak awal 2026, reksadana saham juga mengalami koreksi terdalam yakni -9,08%, seiring koreksi IHSG yang mencapai -18,49% pade periode yang sama.
Baca Juga: Investor Reksadana Saham Wajib Tahu: Potensi Cuan 12% di Depan Mata?
Reza Fahmi Riawan, SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPMA) menjelaskan, perubahan ekspektasi suku bunga global yang kembali bertahan tinggi di tengah meningkatnya tensi geopolitik jadi sentimen utama.
“Ini mendorong outflow dari aset berisiko dan tekanan jual yang terjadi secara luas di pasar saham maupun obligasi,” ujar Reza.
Reksadana saham menjadi yang paling terdampak karena memiliki konsentrasi pada saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi pemimpin pasar. Ketika terjadi aksi deleveraging dan profit taking, efeknya jadi lebih terasa.
Di sisi lain, reksadana pasar uang tetap relatif tangguh karena berbasis instrumen berisiko rendah dengan imbal hasil yang lebih stabil.
Meski begitu Reza melihat koreksi ini lebih bersifat siklikal. Fundamental korporasi domestik masih relatif solid, sementara valuasi menjadi lebih menarik pasca koreksi. "Namun dalam jangka pendek, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi," ujarnya.
Sementara itu, Guntur Putra, CEO Pinnacle Investment melihat, perubahan outlook Moody’s pada surat utang pemerintah mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi. Jika kondisi ini berujung pada penurunan peringkat utang, maka arus keluar modal dari pasar saham dan obligasi berpotensi berlangsung lebih lama.
Guntur menekankan, kunci memaksimalkan return reksadana di tengah kondisi pasar yang dinamis terletak pada diversifikasi portofolio dan pemantauan ketat terhadap perkembangan ekonomi. Ia memproyeksi reksadana saham berpotensi mencetak return di kisaran 7% hingga 12% per tahun, meski dengan tingkat volatilitas yang juga lebih besar.
Reza juga melihat reksadana saham tetap menjadi mesin pertumbuhan, tetapi memerlukan strategi yang lebih taktis dan selektif. Peran manajer investasi menjadi krusial, baik dalam menentukan alokasi aset maupun momentum masuk ke pasar.
Sedangkan reksadana pendapatan tetap berpotensi pulih lebih cepat, ketika yield obligasi mulai stabil. Guntur memproyeksi return reksadana pendapatan tetap di kisaran 5% - 8% per tahun, ditopang pergerakan obligasi tenor menengah hingga panjang.
