KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih membayangi kinerja industri reksadana. Di tengah pelemahan pasar saham dan meningkatnya volatilitas mata uang, manajer investasi memilih memperkuat kualitas portofolio melalui seleksi emiten berbasis fundamental guna menjaga kinerja reksadana saham hingga kuartal III 2026.

Berdasarkan data Infovesta per Mei 2026, mayoritas jenis reksadana mencatatkan kinerja negatif. Reksadana saham menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 10,22% secara bulanan alias month on month (mom) dan turun 17,66% sejak awal tahun atau year to date (ytd). 

SVP Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, dalam kondisi pasar saat ini, pengelolaan risiko menjadi sama pentingnya dengan upaya mengejar imbal hasil. 

HPAM aktif mengevaluasi valuasi dan prospek masing-masing sektor. Selain itu, likuiditas portofolio tetap dijaga agar perusahaan memiliki fleksibilitas dalam merespons perubahan pasar sekaligus memanfaatkan peluang investasi ketika terjadi dislokasi harga.

Strategi tersebut tercermin pada produk HPAM Syariah Ekuitas yang hanya terkoreksi 0,39% secara mom dan turun 2,35% ytd. Kinerja tersebut masih di atas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah terkoreksi hingga 35% % ytd. 

Berdasarkan fund fact sheet per 30 April 2026, lima posisi terbesar portofolio saham ditempati saham PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) sebesar 17,6%. Menyusul PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) sebesar 16,4%, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sebesar 16%, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) sebesar 14,1%, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) sebesar 10%. 

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra menjelaskan, apabila kejelasan kebijakan dan disiplin fiskal belum menunjukkan perbaikan yang nyata, maka pasar saham domestik masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan. Bahkan, menurut perhitungannya, IHSG berpeluang bergerak di bawah level 5.800.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Pinnacle Investment mengedepankan strategi defensif pada kuartal III 2026. Fokus investasi diarahkan pada saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat, arus kas yang solid, serta valuasi yang menarik.

Strategi tersebut tercermin pada kinerja Pinnacle Dana Prima yang masih mampu mencatatkan imbal hasil 0,05% sejak awal tahun. Namun secara bulanan, produk tersebut tetap terkoreksi sekitar 10% mengikuti tekanan pasar yang meluas.

Hingga akhir tahun, Pinnacle akan tetap berfokus pada saham-saham berkualitas tinggi yang memiliki momentum pertumbuhan, fundamental kuat, profitabilitas sehat, dan valuasi yang wajar. Sebaliknya.

"Dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, fokus utama perusahaan menjaga kinerja yang kompetitif dan konsisten lebih baik dibandingkan benchmark," ujar Guntur, Jumat (5/6).

Head of Investment Specialist & Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana mengatakan, kinerja reksadana saham dalam jangka pendek masih berpotensi berfluktuasi. Ketidakpastian terkait peringkat kredit Indonesia, proses MSCI rebalancing, penyesuaian sejumlah indeks global, hingga pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih menjadi faktor yang membayangi pasar. 

Di tengah gejolak pasar saat ini, Lolita menyarankan investor untuk menjaga porsi likuiditas yang memadai melalui reksadana pasar uang.
 

komentar