KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah produk reksadana berbasis dolar Amerika Serikat (AS) masih mencatatkan kinerja yang menarik di tengah tingginya suku bunga global dan ketidakpastian geopolitik.

Salah satu produk dengan performa tertinggi berdasarkan data Infovesta Utama per 8 Juni 2026 adalah reksadana Panin Global Sharia Equity Fund yang membukukan imbal hasil (return) sekitar 47,19%  year to date (ytd).

Di posisi berikutnya terdapat Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B yang membukukan return 38,19% ytd. Sementara itu, Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas A mencatat kinerja 36,80% ytd.

Ketiga produk tersebut merupakan reksadana jenis global fund berbasis dolar AS yang memiliki underlying asset instrumen saham luar negeri.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan, kinerja positif pada produk Panin Global Sharia Equity Fund ditopang oleh strategi stock picking dan overweight pada saham-saham yang berada dalam ekosistem artificial intelligence (AI). Mengingat saham-saham AI beberapa tahun terakhir menjadi motor utama penguatan pasar saham AS.

"Panin Global stockpicking dan overweight pada ekosistem saham AI. Ketika saham AI ini naik, kinerjanya di atas indeks S&P 500 Syariah," ujar Rudiyanto, Kamis (11/6).

Meski demikian, Rudiyanto mengingatkan strategi tersebut juga memiliki konsekuensi risiko yang lebih tinggi. Konsentrasi portofolio pada sektor tertentu dapat membuat kinerja reksadana bergerak lebih fluktuatif, bahkan lebih rendah dibandingkan benchmark.

"Untuk saat ini fund manager masih optimistis dengan outlook ke depan, sehingga bobot overweight tersebut masih dipertahankan," kata Rudiyanto.

Sejumlah saham teknologi yang jadi underlying produk ini seperti Amazon.com Inc , Apple Inc., Microsoft Corp dan Nvidia Corp.

Menurut Rudiyanto, kepemilikan aset berbasis dolar AS lebih relevan dipandang sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio daripada sekadar mencari keuntungan dari pergerakan kurs.

Jika kenaikan suku bunga Federal Reserve tidak terlalu agresif, pasar saham AS masih berpotensi bergerak stabil. Kondisi tersebut dapat menjadi penopang bagi kinerja reksadana saham berbasis USD di pasar AS.

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan, sejatinya reksadana berbasis dolarAS tetap menghadapi volatilitas sesuai karakter aset yang. Bagi investor horizon investasi jangka panjang, reksadana saham global berbasis dolar AS atau global fund dapat menjadi pilihan menarik. Menurutnya, produk ini memiliki fleksibilitas berinvestasi hingga 100% pada saham luar negeri, menunjukkan kinerja yang baik dalam jangka panjang.

Wawan mengingatkan, investasi pada instrumen berbasis valuta asing tetap mengandung risiko nilai tukar. "Bila  rupiah menguat, penjualan ke rupiah pada saat itu, bisa menurunkan kinerja," kata Wawan, kemarin (11/6).
 

komentar