KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reksadana pendapatan tetap mendominasi daftar produk reksadana dengan nilai aktiva bersih (NAB) atau dana yang dikelola terbesar per November 2023. Dari sepuluh produk reksadana dengan NAB terbesar, ada lima reksadana yang tergolong dalam kelompok reksadana pendapatan tetap.

Posisi pertama NAB terbesar ditempati oleh Danamas Stabil yang merupakan racikan Sinarmas Asset Management dengan NAB Rp 16,95 triliun. 

Berdasarkan data Infovesta, sejumlah reksadana pendapatan tetap dengan NAB tambun tersebut memang memberikan return lebih tinggi dari indeks reksadana pendapatan tetap yang tercatat 4,02% secara year to date (ytd) hingga November 2023. 

Danamas Stabil menghasilkan return 5,14% ytd. Imbal hasil Eastspring IDR Fixed Income Fund Kelas B  yang memiliki NAB Rp 5,73 triliun mencapai 6% ytd. Sementara Sucorinvest Stable Fund menghasilkan return di bawah indeks, yakni 3% ytd.

Research Analyst PT Infovesta Kapital Advisori ,Arjun Ajwani mengatakan, reksadana pendapatan tetap mendominasi daftar reksadana dengan NAB terbesar karena pelaku pasar pada tahun ini lebih memilih berinvestasi di obligasi di tengah ketidakpastian global. Terlihat dari keunggulan kinerja obligasi dibandingkan saham. 

Baca Juga: Ini Jurus MI Kelola Reksadana Saham saat IHSG Diprediksi Menanjak di Akhir Tahun

Return Infovesta 90 Equity Fund Index masih minus 4,12% ytd hingga November 2023. “Salah satu alasan lain adalah minat investor terhadap beberapa produk reksadana pendapatan tetap tersebut adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun 2024 yang berpotensi menaikkan harga obligasi,” tutur Arjun, Kamis (14/12).

Berdasarkan fundfact sheet per November 2023, alokasi aset reksadana Danamas Stabil yang diluncurkan sejak Februari 2005 ini ditempatkan di obligasi dan sukuk pemerintah maupun korporasi sebesar 91,4%. 

Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi menambahkan, di tengah era suku bunga tinggi, investasi baru di obligasi menjadi lebih menarik. Pasalnya, kupon dan yield yang ditawarkan lebih tinggi.

“Selain itu, mungkin juga hal ini adalah cerminan bahwa risk profile orang Indonesia mayoritas di moderat ke bawah,” tutur Eri.

Di tahun 2024, Eri menilai investasi di reksadana pendapatan tetap masih menarik seiring dengan potensi pemangkasan suku bunga acuan. Hal ini berpotensi membuat harga obligasi naik dari level saat ini.
 

komentar