KONTAN.CO.ID - Pemulihan pasar modal sejak Juli belum banyak mengubah wajah industri reksadana. Ketika nilai sejumlah aset dasar mulai naik atawa rebound, total dana kelolaan alias asset under management (AUM) belum ikut mekar.

Data Otoritas Jasa keuangan (OJK) memperlihatkan, AUM industri reksadana cenderung stabil sejak Juni 2026 di kisaran Rp 656 triliun. Di akhir Agustus, total AUM Rp 656,896 triliun, hanya naik tipis Rp 355 miliar atau 0,05% dibanding Juli. Angkanya pun masih di bawah posisi akhir 2025.

Yang menarik, stagnasi AUM terjadi ketika sejumlah kelas aset mulai mencatat pertumbuhan. Pada Agustus, reksadana saham, pendapatan tetap, dan campuran mencetak pertumbuhan dana kelolaan. Sebaliknya, AUM reksadana pasar uang justru tergerus.

Pertumbuhan AUM sebagian reksadana tak terlepas dari perbaikan nilai aset dasar. IHSG menguat 10,5% pada Juli dan kembali naik 4,64% pada Agustus. Indeks IBPA Government Total Return juga berbalik positif 2,26% pada Agustus.

Sayang, kenaikan nilai aset tak serta-merta berarti investor beramai-ramai menambah kepemilikan reksadana. Buktinya, total unit penyertaan (UP) industri menyusut sejak April (lihat tabel 1).

Tabel 1. Perkembangan Dana Kelolaan (AUM) & Unit Penyertaan Industri Reksadana Pada 2026
     
Periode AUM (Rp triliun) UP (miliar unit)
Agustus 2026 656.897 494.644
Juli 2026 656.542 498.516
Juni 2026 656.869 506.965
Mei 2026 689.724 520.277
April 2026 700.295 523.471
Maret 2026 699.647 524.623
Februari 2026 717.550 522.643
Januari 2026 706.371 509.641
Desember 2025 679.240 480.562
Sumber: OJK    

Raihan Rafly, Investment Specialist Syailendra Capital, melihat kondisi tersebut konsekuensi dari pemulihan pasar. Stagnasi AUM di tengah penurunan UP menunjukkan bahwa kenaikan nilai aset dasar masih menopang AUM, sementara sebagian investor kemungkinan melakukan profit taking setelah pemulihan pasar.

Baca Juga: Redemption Berlanjut, Unit Penyertaan Reksadana Anjlok 30 Miliar Dalam 5 Bulan

Menurut Raihan, investor yang masuk ketika pasar terkoreksi pada semester pertama, mulai menikmati perbaikan kinerja dan sebagian merealisasikan keuntungan. Kondisi ini wajar pada tahap awal pemulihan pasar.

"Tantangan industri ke depan adalah mengonversi pemulihan kinerja menjadi sustainable net inflows," jelasnya secara tertulis, Rabu (16/9).

Gema K. Darmawan, CIO Samuel Aset Manajemen, melihat penyusutan AUM reksadana pasar uang memiliki nilai yang hampir sama dengan kenaikan pada jenis reksadana lainnya. Terjadi rotasi dari aset yang defensif ke aset yang lebih berisiko, didorong pemulihan pasar saham dan imbal hasil obligasi yang lebih menarik.

Liew Kong Qian, Head of Investment Eastspring Investments Indonesia, mengamini ada indikasi pergeseran dari instrumen defensif menuju aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi. Cuma, ia mengingatkan penurunan AUM pasar uang tak serta-merta bisa dibaca sebagai perpindahan besar-besaran investor menuju aset berisiko.

"Sebagian perpindahan dana dapat mencerminkan aktivitas rebalancing portofolio setelah kondisi pasar membaik, serta upaya investor untuk menangkap peluang yang muncul di pasar saham dan obligasi," paparnya, Kamis (17/9).

Sementara Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, menyebut penurunan AUM pasar uang bisa saja karena berpindah ke instrumen di luar reksadana, seperti obligasi atau deposito, yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dalam kondisi suku bunga tinggi.

"Di situasi pasar saat ini, investor masih dalam posisi wait and see untuk mulai masuk kepada aset-aset yang memiliki risiko tinggi," ujar Dimas.

Tabel 2. Perkembangan AUM & UP Setiap jenis Reksadana Per Agustus 2026            
                     
Jenis Reksadana AUM (Rp triliun) Selisih (Rp triliun)   UP (juta unit) Selisih (juta unit)
Agustus 2026 Juli 2026 Des 2025 MoM YTD Agustus 2026 Juli 2026 Des 2025 MoM YTD
Capital Protected Fund 145,346 144,844 130,843 0,50 14,50 142.148,85 141.678,42 126.987,76 470,43 15.161,09
Equity Fund 69,713 68,401 76,623 1,31 -6,91 62.302,55 65.994,21 63.896,23 -3.691,66 -1.593,68
Exchanged Traded Fund 17,232 16,529 16,629 0,70 0,60 41.939,46 39.882,65 23.973,50 2.056,81 17.965,96
Fixed Income Fund 219,093 217,101 244,447 1,99 -25,35 133.449,26 134.598,09 143.754,35 -1.148,83 -10.305,10
Global Fund 23,350 24,264 15,121 -0,91 8,23 960,58 1.004,11 826,02 -43,53 134,56
Index Fund 9,854 9,627 11,683 0,23 -1,83 11.421,51 11.505,52 11.685,02 -84,01 -263,51
Mixed Asset Fund 37,210 35,507 29,551 1,70 7,66 29.339,15 28.984,22 23.121,70 354,93 6.217,45
Money Market Fund 128,629 133,562 144,838 -4,93 -16,21 68.188,57 69.741,50 79.107,06 -1.552,93 -10.918,49
Sukuk Based Fund 6,469 6,709 9,506 -0,24 -3,04 4.893,88 5.127,71 7.211,00 -233,83 -2.317,12
Total 656,897 656,542 679,240 0,35 -22,34 494.643,81 498.516,44 480.562,64 -3.872,63 14.081,17
Sumber: OJK diolah                    

Tumbuh moderat di sisa tahun

Kinerja masing-masing manajer investasi tidak sepenuhnya seragam. Syailendra Capital, misalnya, mencatat pertumbuhan AUM yang lebih kuat dibandingkan kinerja industri.

Per akhir Agustus 2026, AUM Syailendra mencapai Rp 39,97 triliun, naik 2% dibanding bulan sebelumnya, dengan UP meningkat 1%. Artinya, Rafly bilang, pertumbuhan Syailendra tidak semata berasal dari kenaikan nilai aset, tetapi juga ditopang dana baru (subcription).

Kontributor terbesar justru dari AUM reksadana pasar uang. Reksadana pendapatan tetap Syailendra juga tumbuh ditopang kombinasi subscription dan kenaikan harga obligasi. Lalu, AUM reksadana saham dan campuran naik, namun lebih banyak berasal dari kenaikan nilai aset dasar.

Baca Juga: Pasar Saham Rebound, NAB Reksadana Tumbuh Tipis

Hanya, industri reksadana kembali diuji. Pada September ini, pasar saham dan obligasi kembali volatil. Maklum, lonjakan harga minyak berisiko memengaruhi ekonomi domestik. Apalagi, gara-gara inflasi energi yang tinggi, Federal Reserve akhirnya menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026. Bank sentral negara Uncle Sam itu pun masih melihat potensi kenaikan sekali lagi.

Rafly mengakui investor cenderung menunggu sejumlah katalis, terutama hasil review status pasar saham Indonesia oleh lembaga penyedia indeks global, MSCI pada November. Meski begitu, katanya, peluang pertumbuhan AUM hingga akhir tahun masih terbuka.

Potensi pertumbuhan dana kelolaan, salah satunya diharapkan dari kelas aset saham. Menurut Rafly, valuasi yang lebih menarik setelah koreksi, membuka ruang bagi investor untuk kembali masuk. Sementara, di pasar obligasi, yield yang relatif tinggi memberi dukungan bagi reksadana pendapatan tetap. Dengan BI Rate di level 5,75%, reksadana pasar uang juga masih menjadi tempat "parkir" likuiditas.

Namun, karena investor kian selektif dan cenderung memilih produk dengan profil risiko lebih terkelola, Rafly menduga, pertumbuhan AUM hingga akhir tahun ini akan moderat dan selektif. "Potensi akselerasi ketika ketidakpastian pasar mulai mereda," ungkapnya.

Baca Juga: Penguatan Reksadana di Agustus 2026 Masih Rapuh

Untuk menopang AUM, Syailendra mengandalkan reksadana pendapatan tetap. Menurut Rafly, yield yang atraktif memberikan potensi return kompetitif, dan kupon tinggi menjadi penyangga pendapatan ketika harga obligasi berfluktuasi. Jika yield turun, masih terdapat peluang capital gain. Di samping itu, reksadana terproteksi dan campuran juga dijagokan menopang pertumbuhan AUM.

Di Samuel, Gema mengaku, perkembangan AUM sepanjang tahun ini searah dengan industri. Pada Agustus, rata-rata dana kelolaan semua jenis reksadana meningkat, ditopang oleh penguatan nilai aset dasar.

Untuk sisa tahun, Gema melihat potensi dukungan AUM dari produk berbasis pasar uang dan pendapatan tetap berdurasi pendek, seiring kenaikan suku bunga domestik beberapa bulan terakhir. Di samping itu, produk saham tetap terbuka bagi investor dengan toleransi risiko lebih tinggi. SAM masih melihat peluang perbaikan sentimen dan fundamental.

Di Eastspring, kata Liew, perkembangan AUM hingga Agustus sejalan dengan dinamika industri. Minat investor terhadap reksadana yang memiliki eksposur obligasi, saham, dan campuran, cukup baik seiring membaiknya kondisi pasar.

Menurutnya, prospek pasar finansial domestik hingga akhir 2026 cukup konstruktif. Dibandingkan dengan semester pertama, kondisi paro kedua lebih kondusif. "Tapi, faktor eksternal: pergeseran kebijakan bank sentral global, harga komoditas, geopolitik, dan arus dana global berpotensi memengaruhi sentimen pasar dalam jangka pendek," ungkap Liew.

Sementara MAMI menaksir pertumbuhan AUM industri di sisa tahun ini menghadapi tantangan yang tidak mudah. Kata Dimas, valuasi pasar menarik dan fundamental cukup kuat, tetapi faktor eksternal masih berisiko memengaruhi kondisi pasar finansial lokal.

Kenaikan harga energi yang mengerek inflasi, perubahan suku bunga The Fed, hasil review MSCI terhadap Indonesia, serta kebijakan yang digulirkan pemerintah, masih harus dicermati.

Reksadana yang potensial cuan

Dari sisi imbal hasil reksadana, pemulihan pun disinyalir masih terbuka di sisa 2026. Hanya, jalannya tidak akan mulus.

Gambaran saja, mengutip Bareksa, periode tahun berjalan per 16 September 2026, hanya reksadana pasar uang yang rata-rata cuan. Indeks returnnya sebesar 2,66%. Sebaliknya, indeks return reksadana saham -13,92% dan indeks reksadanapendapatan tetap masih -1,26%.

Baca Juga: The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan, Bagaimana Dampaknya ke Pasar SBN?

Menurut Liew, peluang perbaikan kinerja aset berisiko lebih terbuka dibanding semester pertama. Hanya, perjalanan menuju akhir tahun kemungkinan tidak linear, karena pasar masih akan dipengaruhi berbagai faktor eksternal.

Adapun sejumlah faktor penopang masih terlihat. Kata Liew, di pasar obligasi, tingkat yield relatif menarik sehingga menawarkan potensi imbal hasil. Sementara di pasar saham, valuasinya di level yang relatif menarik dibandingkan prospek fundamentalnya. "Kombinasi itu membuat ruang pemulihan kinerja kedua kelas aset masih terbuka," taksirnya.

Di tengah potensi pemulihan kedua kelas aset itu, Syailendra melihat daya tarik lebih kuat pada obligasi, yang membuka peluang lebih konstruktif bagi reksadana pendapatan tetap.

Kata Rafly, secara historis, pergerakan yield obligasi Indonesia berkorelasi dengan yield obligasi AS. Namun, belakangan, pergerakan yield Indonesia relatif lebih landai, didukung perkembangan disiplin fiskal dan penguatan rupiah.

Rafly mengakui Syailendra tetap melihat harapan pemulihan pada reksadana berbasis saham, karena valuasinya menarik. "Meski begitu, kami lebih konstruktif terhadap reksadana campuran, karena fleksibilitas alokasi aset dan keseimbangan antara potensi return dan risiko," imbuhnya.

Hingga akhir tahun ini, Syailendra memprioritaskan selektif dalam pemilihan aset saham. Sedangkan di pasar obligasi, fokus pada strategi durasi pendek dan carry yield demi menjaga stabilitas portofolio sekaligus mengoptimalkan potensi imbal hasil.

Baca Juga: Dilema Arah Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

Sementara Samuel menempatkan pasar uang dan pendapatan tetap berdurasi pendek, sebagai pilihan yang lebih defensif. Gema menaksir kedua jenis reksadana itu berpotensi mencetak imbal hasil positif di pengujung tahun ini.

"Adapun produk berbasis saham, yang kinerjanya berpotensi membaik lebih selektif pada tema komoditas dan data center value chain," imbuhnya.

Setali tiga uang, MAMI menilai reksadana pasar uang dan pendapatan tetap, yang masih berpeluang tumbuh dalam jangka pendek. Alasannya, menurut Dimas, tingkat suku bunga yang cukup tinggi membuat instrumen pasar uang mampu menawarkan imbal hasil menarik.

Sementara, ketidakpastian di pasar obligasi diharapkan mereda seiring komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal dan rupiah yang lebih stabil.

 

Dengan strategi pengelolaan aktif, kata Dimas, manajer investasi akan mampu mengoptimalkan potensi imbal hasil yang muncul di pasar.

komentar