KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan bunga acuan The Federal Reserve (The Fed)  sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%–4,00% pada 16 September 2026 mendorong penguatan  dolar Amerika Serikat (AS) dan mengangkat imbal hasil (yield) obligasi AS (US Treasury). Kondisi strong greenback dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi menciptakan daya tarik ganda.

Investor bisa mendapatkan keuntungan tinggi dengan risiko yang lebih terbatas. Bagi investor domestik, kondisi ini memberikan keuntungan tambahan ketika nilai investasi dalam dolar AS dikonversi kembali ke mata uang lokal seperti rupiah yang sedang melemah. 

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, mengatakan, selain untuk diversifikasi, aset offshore juga dapat menjadi lindung nilai terhadap risiko nilai tukar. Sejalan dengan itu, imbal hasil atau yield US Treasury yang saat ini sudah berada di level tinggi yakni 4,9% pada tenor 10 tahun, membuat instrumen pendapatan tetap USD menawarkan daya tarik tersendiri. Investor dapat memperoleh yield yang relatif menarik tanpa harus mengambil risiko yang terlalu besar. 

Di sisi lain, Wawan melihat investor perlu lebih berhati-hati terhadap aset saham global. "Saham global sudah naik cukup tinggi sehingga potensi koreksi terbuka jika suku bunga bertahan tinggi lebih lama," ujar Wawan, Jumat (18/9).

Baca Juga: Rapor Reksadana Offshore Terangkat Saham Bertema AI

Untuk kelas aset yang dapat dipertimbangkan investor saat ini, Wawan melihat instrumen pendapatan tetap dolar AS sebagai pilihan yang menarik dari sisi risk reward. Instrumen tersebut mencakup US Treasury tenor pendek hingga menengah serta instrumen money market dalam dolar AS.

Bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, ia menyebut reksadana global berbasis syariah dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap pasar saham global.

CEO Pinnacle Investment Guntur Putra mengatakan, untuk memperluas diversifikasi portofolio, aset offshore, baik melalui reksa dana maupun Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) discretionary offshore dapat menjadi pilihan. Aset fixed income global juga dapat dipertimbangkan secara selektif karena masih menawarkan potensi income yang relatif menarik. Sementara itu, saham global tetap diperlukan untuk menangkap peluang pertumbuhan dalam jangka panjang.

Saham teknologi

Direktur Batavia Prosperindo Asset Management, Eri Kusnadi, mengatakan, kenaikan bunga The Fed seharusnya sudah price in di pasar. Kondisi tersebut membuat dampak kenaikan suku bunga terhadap aset offshore berpotensi terbatas selama, kenaikan bunga tidak berlangsung berulang kali. 

Eri melihat instrumen saham  global yang berkaitan dengan teknologi dan artificial intelligence (AI) masih cukup menarik untuk dicermati. Meski memiliki prospek pertumbuhan, Eri mengingatkan bahwa saham teknologi memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Pergerakannya juga cukup sensitif terhadap berbagai sentimen yang berkembang di pasar.

Investment Specialist Sucor Asset Management Myura Blessya V Walewangko juga melihat saham teknologi masih menjanjikan. Peningkatan belanja modal dari perusahaan hyperscalers seperti Apple, Google, Meta, dan Microsoft berpotensi membuka ruang pertumbuhan bagi sejumlah sektor pendukung ekosistem AI. 

Myura bilang, salah satu reksadana offshore Sucorinvest Global Equity Sharia USD (SGESU) mampu mencetak return 8,3% year to date (ytd) hingga 31 Agustus 2026. Pada periode yang sama asset under management (AUM) SGESU tumbuh 124% menjadi US$ 1,94 juta. 

Adapun Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha mengatakan, sektor kesehatan, dan energi terbarukan juga menjadi sejumlah sektor yang menarik untuk dicermati dalam jangka panjang.  Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS misalnya, yang berinvestasi pada ekuitas yang diperdagangkan di bursa efek di wilayah Asia Pasifik mampu mencetak return 32,11% secara year to date (ytd). Berdasarkan fund fact sheet per Agustus 2026, underlying asset reksadana ini pada saham teknologi seperti Samsung Electronics Co dan SK hynix Inc.

Namun Guntur mengingatkan, investasi offshore sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti investasi domestik. Eksposur global lebih tepat digunakan melengkapi portofolio dengan sumber return dan diversifikasi yang lebih luas. 

komentar