KONTAN.CO.ID - Investor reksadana saham syariah bisa semringah tahun ini. Sebagian besar produk berlabel "halal" ini menorehkan imbal hasil positif.

Wajar, kinerja mayoritas saham syariah yang menjadi aset dasar reksadana saham syariah, memang apik di tahun ini. Tengok saja, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang naik 9,56% pada tahun ini berjalan atawa year to date (YtD) 26 Oktober 2022. Performanya melampaui rapor seluruh saham di dalam negeri. IHSG sebagai tolok ukur kinerja saham di BEI hanya naik 7,03%.

Saham syariah paling likuid juga unggul ketimbang bluechip konvensional. Jakarta Islamic Index (JII), yang beranggotakan 30 saham syariah terlikuid, melesat 10,54%. Sedangkan indeks LQ45 di BEI hanya naik 7,81%.

ISSI dan JII adalah indeks yang paling banyak dijadikan acuan oleh manajer investasi dalam meracik portofolio reksadana saham syariah. Performa kedua indeks ini pada 2022 jauh lebih bagus dibandingkan tahun lalu. Pada 2021, ISSI memang masih tumbuh 6,50%, namun kalah dari IHSG yang naik 10%. Sedangkan, JII berkinerja buruk dengan -10,85%, padahal indeks LQ45 hanya turun kurang dari 1%.

Budi Santoso, Portfolio Manager Head of Sharia Investment Unit Samuel Aset Manajemen (SAM), mengatakan ISSI dan JII memiliki beberapa sektor yang mendukung kinerja positif di periode tahun berjalan ini, sehingga dapat mengungguli IHSG dan LQ45.

Kontribusi terbesar dari sektor terkait komoditas dan energi. Saham syariah dari sektor tersebut menguat disokong hasil laporan keuangan perusahaan yang membaik signifikan karena tren kenaikan harga komoditas.

Selain itu, indeks saham syariah juga terkatrol oleh rebound signifikan saham-saham barang konsumsi, yang bobot sektornya cukup besar di indeks saham-saham syariah.

Baca Juga: Kinerja Saham Syariah Masih Merekah

Lebih spesifik, Dimas Noverio, Head of Equity and Research Avrist Asset Management, menyebut indeks saham syariah unggul didukung kenaikan tajam saham-saham sektor pertambangan terutama batubara, yang punya bobot besar dalam ISSI dan JII.

Reza Fahmi, Senior Vice President Head of Retail Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), menyebut penggerak indeks syariah adalah saham-saham big cap sektor non cyclical yang terkenal defensif. 

Nah, beberapa emiten utama di sektor tersebut, seperti UNVR, MYOR dan KLBF, kinerjanya pulih dari sisi fundamental maupun harga saham. Kemudian ada juga saham komoditas CPO karena harga minyak sawit membaik.

Alhasill, sejumlah produk reksadana saham syariah mampu mengukir imbal hasil dobel digit maupun menyamai kinerja benchmark atawa tolok ukurnya.

Daftar Jawara Produk Reksadana Saham Syariah   
(Year to date 26 Oktober 2022)  
   
Nama Reksadana Return YTD (%)
HPAM Ekuitas Syariah Berkah 22,28
Maybank Dana Ekuitas Syariah 16,34
PNM Ekuitas Syariah 15,33
Cipta Syariah Equity 15,29
Cipta Saham Unggulan Syariah 14,76
Avrist Equity Amar Syariah 13,15
Mandiri Investa Ekuitas Syariah 12,06
Pratama Syariah 11,12
Batavia Dana Saham Syariah 10,53
HPAM Syariah Ekuitas 9,96
Simas Syariah Unggulan 8,31
SAM Sharia Equity Fund 7,90
Mandiri Investa Atraktif Syariah 7,67
Bahana Icon Syariah 7,15
Manulife Syariah Sektoral Amanah 6,78
   
Sumber: Bareksa  

Hanya, secara rata-rata kinerja reksadana saham syariah masih kalah dari reksadana saham konvensional. Bareksa mencatat, Indeks Reksadana Saham Syariah sekitar 2,21%, lebih rendah dari Indeks Reksadana Saham (konvensional) yang mencapai 3,23%.

Berkah saham tambang

Menurut Eri Kusnadi, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM), reksadana saham syariah yang performanya tak selaras dengan penguatan indeks saham syariah, bisa dikarenakan faktor preferensi manajer investasi dalam memilih sektor dan saham pengisi portofolio.

"Tidak semua anggota indeks dimasukkan dalam portofolio reksadana. Sehingga bisa saja terjadi kinerja lebih tinggi maupun lebih rendah," beber dia

Nah, mari intip jurus fund manager dalam mengelola portofolio reksadana saham syariah yang kinerjanya moncer.

HPAM, kata Reza, dalam memilih saham untuk portofolio produknya didasari outlook pertumbuhan laba, apakah trennya positif atau melemah. Kemudian, menimbang valuasi saham, aksi korporasi (merger dan akuisisi), serta faktor kebijakan pemerintah eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja emiten.

Di periode tahun berjalan ini, HPAM Ekuitas Syariah Berkah menjadi jawara reksadana saham syariah, dengan mencetak return 22,28%.

Sementara, Avrist AM mengedepankan pada strong conviction atau kekuatan fundamental tiap saham, yang dikombinasikan dengan view Avrist terhadap masing-masing sektor dalam indeks acuan. "Saat ini kami overweight di sektor energi, infrastruktur, dan healthcare," beber dia.

Reksadana Avrist Equity Amar Syariah saat ini menorehkan return 13%. Berdasar fund fact sheet akhir September, reksadana ini antara lain banyak mengempit saham ADRO, PTBA, ITMG, ICBP, KLBF, TLKM dan UNTR.

Sedangkan, BPAM menekankan asas aktif fundamental dalam meracik portofolio reksdana Batavia Dana Saham Syariah. Jadi, pemilihan preferensi sektor dan saham dapat berputar dari satu saham ke saham lain. Kata Eri, sektor yang cukup menarik untuk overweight atau pembobotan besar saat ini, yaitu sektor infrastruktur, khususnya sub-sektor telekomunikasi dan sektor energi.

Periode tahun berjalan ini, imbal hasil Batavia Dana Saham Syariah mencapai 10,53%, menyamai kinerja indeks acuan. Mengutip fund fact sheet per 30 September 2022, portofolio reksadana ini punya bobot besar di saham TLKM, ADRO, MDKA dan KLBF.

Baca Juga: Saham-Saham Big Caps Melaju Kencang, Begini Prospek Selanjutnya

Gaya pengelolaan portofolio yang aktif juga menjadi jurus SAM. Kata Budi, SAM aktif merotasi portofolio pada sektor dan saham yang berpotensi memberi imbal hasil lebih baik sesuai dengan perkembangan kondisi pasar terkini. Di samping mengikuti siklus pasar secara global, juga tetap fokus pada sektor-sektor domestik yang diuntungkan dari arah pemulihan ekonomi.

Budi menyebut saham sektor komoditas dan energi berkontribusi terbesar pada kinerja SAM Sharia Equity Fund. Sebaliknya, saham dari sektor yang terkait transportasi menghambat kinerja. Pada periode tahun berjalan, SAM Sharia Equity Fund menorehkan imbal hasil 7,9%.

Prospek return  

Akankah performa apik reksadana saham syariah bisa berlanjut?

Menurut Dimas, hingga akhir tahun ini, masih ada katalis yang dapat menyokong reksadana saham syariah. Seperti hasil mid-term elections di Amerika Serikat yang secara umum berdampak positif untuk pasar saham, valuasi indeks yang sudah turun signifikan, serta laba emiten domestik yang berpotensi tetap baik.

Avrist masih melihat potensi penguatan indeks saham syariah, yang ditopang sektor pertambangan karena perang Rusia dan Ukraina masih berlanjut. Namun, kata Dimas, potensinya di 2023 akan terbatas dibandingkan tahun 2022.

Dengan pertimbangan kondisi ekonomi global yang melemah dan tren kenaikan suku bunga berlanjut, Dimas mengaku, Avrist akan mempertahankan strategi portofolionya hingga akhir tahun ini dan awal 2023. "Strategi portofolio tetap cenderung netral dan overweight pada sektor-sektor yang defensif," ungkap dia.

Budi optimistis imbal hasil reksadana saham syariah hingga akhir 2022 masih tumbuh seiring dengan membaiknya kinerja laporan keuangan mayoritas emiten saham syariah.

Kinerja mayoritas reksadana saham syariah juga berpotensi menyamai rata-rata imbal hasil reksadana saham konvensional. Potensi ini didukung kinerja positif sektor terkait komoditas dan energi yang memiliki bobot signifikan di indeks ISSI dan JII.

Harga rata-rata komoditas dan energi hingga memasuki kuartal IV tahun ini tetap tinggi, sehingga emiten bisa mempertahankan harga jual rata-rata tetap tinggi. "Kinerja laporan keuangan emiten di sektor komoditas dan energi akan berpotensi tetap baik," taksir Budi.

Selanjutnya pada tahun 2023, prospek saham syariah diproyeksi tetap akan menarik. Indonesia sebagai salah satu negara ekspotir komoditas terbesar di dunia tetap berpotensi mendapatkan berkah pertumbuhan ekonomi yang baik. Hal ini didukung dengan dibukanya kembali aktivitas ekonomi.

Meski begitu, Budi mengingatkan, harus bijak memperhitungkan probabilitas risiko pelemahan pasar yang ditimbulkan oleh kekhawatiran terhadap resesi dan perlambatan ekonomi dunia akibat tren suku bunga tinggi dan inflasi.

Baca Juga: Berikut Cara Memilih Reksadana Sesuai Karakter Anda

Ke depan, SAM akan melanjutkan gaya pengelolaan portofolio aktif. Menurut Budi, pihaknya akan menyesuaikan posisi portofolio sesuai dengan perkembangan kondisi pasar terkini yang sangat dinamis.

Senada, Eri bilang, BPAM akan tetap aktif dan berkesinambungan menganalisis perkembangan dan fundamental sektor dan saham-saham. Dus, akan secara aktif mengevaluasi dan menyesuaikan portofolio saat diperlukan.

Tahun depan, Eri menaksir, prospek sektor saham yang dominan di indeks ISSI dan JII akan variatif. Saham sektor energi akan lebih landai dengan harga minyak dunia diprediksi melambat.

Di sisi lain, sektor material dasar lebih stabil seiring kebutuhan di kendaraan listrik. Adapun sektor infrastruktur terutama telekomunikasi masih resilient.

Nah, bagi investor yang berniat investasi pada reksadana saham syariah, saran Budi, lakukan strategi averaging. Beli reksadana dalam beberapa tahap untuk mendapatkan rata-rata NAB/Unit yang lebih baik. Dengan cara ini, investor berpotensi mendapatkan imbal hasil optimal di masa mendatang.

Sepakat, Eri bilang, proses investasi di pasar saham akan lebih optimal apabila dilakukan secara berkala dan dalam jangka waktu lebih panjang. Investor bisa masuk saat ini, sebab kinerja emiten di BEI masih cukup baik.

komentar