KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reksadana tertekan sepanjang Juni 2026. Otoritas Jasa Keungan (OJK) mencatat penurunan dana kelolaan atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana sebesar 4,79% secara month to month (mtm) dan turun 3,32% secara year to date (ytd) ke level Rp 652,9 triliun. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi mengatakan, penurunan NAB ini turut dipicu oleh aksi lepas unit penyertaan (UP) yang cukup masif oleh para investor.

"Terdapat net redemption sebesar Rp 23,75 triliun secara mtm pada industri reksadana per Juni. Sedangkan secara ytd, net redemption sebesar Rp 2,14 triliun," ujar Hasan,  Selasa (7/7). 

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengungkapkan, dana kelolaan atau asset under management (AUM) Panin AM juga tergerus. Pada Mei 2026, AUM reksadana tercatat Rp 14,1 triliun  dan pada Juni 2026 turun menjadi Rp 13,4 triliun.

"Koreksi pada instrumen underlying di pasar modal yakni saham dan obligasi, menjadi pemicu utama susutnya dana kelolaan tersebut," ujar Rudiyanto, kemarin. 

Di tengah volatilitas pasar finansial yang menekan AUM reksadana,  Rudiyanto menyarankan investor untuk tetap tenang dalam mengelola portofolio mereka.

"Investasi reksadana itu sebaiknya dilakukan dengan diversifikasi sesuai profil risiko, bukan hanya satu jenis tertentu saja," jelas Rudiyanto.

Guna menghadapi ketidakpastian pasar ke depan, strategi penempatan dana secara bertahap dinilai menjadi pilihan yang paling bijak untuk memitigasi risiko penurunan harga aset.

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra menilai, pada semester II, prospek pasar finansial domestik akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global maupun domestik. Dari dalam negeri, ia menilai kejelasan arah kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang akan menentukan kepercayaan investor.

Menurut Guntur, komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan kepercayaan pasar akan menjadi katalis bagi pemulihan pasar saham. 

Apabila faktor-faktor tersebut membaik, peluang rebound dinilai semakin terbuka mengingat valuasi saham Indonesia saat ini sudah lebih menarik dibandingkan awal tahun. 

Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja reksadana pada semester I-2026 memang lesu. Hanya reksadana pasar uang yang mencetak rata-rata return positif yakni 1,87% secara ytd. Sementara rata-rata return reksadana pendapatan tetap minus 1,54% ytd, reksadana campuran turun 11,40% ytd, dan reksadana saham turun paling dalam, hingga mencapai 21,87% ytd.

Secara bulanan, kinerja reksadana pasar uang naik tipis 0,27%. Lalu kinerja reksadana pendapatan tetap turun 0,92%, kinerja reksadana campuran minus 3,04%, dan return reksadana saham turun 5,11%.
 

komentar