KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pada semester I-2026 lesu. Tekanan pada bursa saham dan obligasi berdampak pada kinerja reksadana. Pada semester II-2026, Kinerja reksadana akan ditentukan oleh seberapa jauh underlying asset reksadana seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pasar obligasi mampu membaik. 

Berdasarkan data Infovesta Utama,  hanya reksadana pasar uang yang mencetak rata-rata return positif yakni 1,87% secara year to date (ytd). Sementara rata-rata return reksadana pendapatan tetap minus 1,54% ytd, reksadana campuran turun 11,40% ytd, dan reksadana saham turun paling dalam, hingga mencapai 21,87% ytd. 

Secara bulanan alias month-to-month (mom), kinerja reksadana pasar uang naik tipis 0,27%. Lalu kinerja reksadana pendapatan tetap turun 0,92%, kinerja reksadana campuran minus 3,04%, dan return reksadana saham turun 5,11%. 

Kinerja reksadana saham terkoreksi paling dalam seiring penurunan IHSG sebesar 7,9% selama Juni 2026. Aksi jual dari investor asing, depresiasi nilai tukar rupiah, serta tekanan sentimen global menekan bursa saham. 

Pasar obligasi terbebani oleh sejumlah sentimen, seperti kenaikan BI Rate, tekanan rupiah, inflasi, dan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN).

Adapun reksadana pasar uang terangkat oleh peralihan dana investor ke instrumen berisiko rendah untuk menghindari volatilitas pasar saham maupun obligasi jangka panjang.

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan, prospek kinerja reksadana pada semester II – 2026 akan bergantung pada laporan keuangan kuartal II – 2026 emiten, tingkat suku bunga acuan domestik dan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS).  “Prospek kinerja reksadana mengikuti kinerja IHSG dan obligasi yang jadi aset dasarnya,” ujar Rudiyanto, Kamis (2/7). 

Direktur Investasi PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM), Dimas Yusuf menilai, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar ke depan, seperti data-data ekonomi, serta implementasi kebijakan pemerintah untuk stabilitas fiskal. 

Investor dengan profil risiko konservatif, Dimas menilai reksadana pasar uang berdenominasi dolar AS (USD) dapat menjadi pilihan karena menawarkan likuiditas yang relatif tinggi dengan risiko yang terukur. Sementara itu, bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, reksadana campuran maupun reksadana saham global dapat menjadi alternatif untuk memperoleh potensi pertumbuhan yang lebih optimal. 

Head of Investment Specialist & Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana mengatakan, kinerja reksadana saham dalam jangka pendek masih berpotensi berfluktuasi. Ketidakpastian evaluasi MSCI hingga pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih menjadi faktor yang membayangi pasar. Lolita menyarankan investor untuk menjaga porsi likuiditas yang memadai melalui reksadana pasar uang.
 

komentar