KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor reksadana dihadapkan dengan kondisi pasar finansial yang kurang menguntungkan. Pengelolaan risiko secara disiplin menjadi kunci agar investor bisa memaksimalkan cuan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin (19/5) kembali terkoreksi 3,46% secara harian ke level 6.370. Senada, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga longsor ke Rp 17.706 per dolar AS. Sementara yield surat berharga negara (SBN) untuk tenor 10 tahun mengalami kenaikan ke level 6,72%.
SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution, Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi, mengatakan, dengan kondisi sekarang, strategi investasi reksadana memang perlu lebih adaptif dibanding beberapa tahun terakhir.
"Fokus investor idealnya tidak lagi semata mengejar return maksimal jangka pendek, tetapi lebih pada menjaga kualitas portofolio dan pengelolaan risiko secara disiplin," ujar Reza, Selasa (19/5).
Ketika sentimen negatif mendominasi seperti sekarang, penting pendekatan alokasi aset yang fleksibel dan berbasis risk management. Korelasi antar aset saat ini cenderung meningkat, sehingga diversifikasi tradisional tidak selalu cukup efektif apabila portofolio terlalu terkonsentrasi pada satu kelas aset tertentu.
Menurut Reza, reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap berdurasi pendek masih berperan penting sebagai jangkar stabilitas portofolio, terutama di tengah ketidakpastian arah suku bunga dan nilai tukar.
Sementara itu, eksposur ke reksadana saham tetap menarik untuk investor dengan horizon menengah-panjang. Namun akumulasi sebaiknya dilakukan bertahap dan selektif mengingat volatilitas pasar masih cukup tinggi.
"Reksadana campuran juga menjadi instrumen yang relevan karena memberi fleksibilitas kepada manajer investasi dalam menyesuaikan komposisi aset sesuai dinamika pasar," terang Reza.
Dimas Ardhinugraha, Investment Specialist,Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, reksadana dalam mata uang dolar AS juga bisa menjadi pilihan investasi.
Produk ini menyajikan peluang diversifikasi kelas aset yang baik di tengah dinamika pasar. Investor juga berpeluang menikmati potensi dari pasar negara dan kawasan lainnya.
Reza memproyeksi, reksadana pasar uang mampu memberikan imbal hasil relatif stabil di kisaran 3%–4% per tahun di 2026.
Sementara itu, reksadana pendapatan tetap berpotensi berada di kisaran 4%–6% per tahun, dengan upside apabila terjadi normalisasi yield di semester kedua tahun ini.
Lalu, untuk reksadana campuran, Reza memproyeksi return berada di kisaran 6% sampai 10% per tahun. Tergantung fleksibilitas strategi alokasi aset masing-masing manajer investasi.
Sementara pada reksadana saham, potensi return masih tertinggi dalam jangka menengah-panjang meski volatilitas jangka pendek tetap besar.
