KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dinamika pasar keuangan global masih tinggi. Meski begitu, tren pergerakan pasar finansial di dalam negeri menguat tipis.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tutup di level 6.501,66 pada Senin (24/8), atau naik 4,28% sejak awal Agustus 2026.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di level 7,01% pada Senin (24/8), turun dari 7,33% pada awal Agustus 2026. Sementara nilai tukar rupiah menguat ke Rp 17.740 per dolar Amerika Serikat (AS) pada (25/8) dari Rp 17.997 per dolar AS di awal bulan ini.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri mencatat, sepekan terakhir total net buy pasar saham mencapai Rp 1,2 triliun. Sekaligus memperbesar posisi net buy hingga Rp 1,35 triliun sepanjang Agustus 2026.
Meski demikian, sustainability rally IHSG masih perlu dikonfirmasi karena kenaikan harga minyak dan yield US Treasury dapat kembali menekan risk appetite global ke pasar berkembang. Bila minyak mentah terus menguat, dapat membatasi ruang kenaikan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan konsumsi domestik.
Sehingga, Founder Traderindo, Wahyu Laksono mengatakan, perlu sejumlah strategi investasi menghadapi dinamika pasar saat ini. Pertama, rotasi sektoral dan instrumen. Yakni mengalihkan sebagian porsi kas ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tenor menengah-panjang untuk mengunci imbal hasil di tengah tren penurunan yield dan penguatan rupiah.
Kedua, buy on weakness saham berfundamental solid. Ketiga, dollar-cost averaging (DCA), yakni akumulasi bertahap pada indeks saham atau reksadana saham untuk meredam volatilitas jangka pendek selama periode efektif rebalancing FTSE Russell.
Keempat, pemanfaatan instrumen pasar uang atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai likuiditas taktis yang tetap memberikan imbal hasil kompetitif.
Dari instrumen reksadana, Novani melihat pasar mulai mendukung pergeseran dari defensive positioning menuju selective risk taking. Investor moderat dapat mempertahankan 40% pada reksadana pasar uang, 40% reksadana pendapatan tetap, dan 20% pada reksadana saham. "Bisa tambah bertahap pada reksadana saham bila foreign inflow berlanjut dan rupiah stabil," ujar Novani, Senin (24/8).
Wahyu menyarankan investor agresif menempatkan 60% portofolio pada saham atau reksadana saham. Lalu, SBN atau obligasi korporasi tenor menengah-panjang sebesar 20%. Pasar uang 10% serta emas atau komoditas alternatif sebanyak 10% sebagai aset lindung nilai.
