Usai Rilis Data Tenaga Kerja AS, IHSG Masih Berpeluang Menguat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 82,18 poin atau 1,36% ke level 6.118,86 pada perdagangan Senin (5/10). Penguatan IHSG terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang lebih dovish setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat.
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, penguatan IHSG kemarin sejalan dengan mayoritas pergerakan bursa global dan regional Asia.
Kondisi ini terjadi setelah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed yang lebih dovish meningkat usai rilis data nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) pekan lalu.
Selain itu, pergerakan IHSG turut didorong penguatan sektor energi dan barang baku, setelah OPEC memutuskan menahan produksi serta adanya penguatan harga emas dunia.
Baca Juga: Menangkap Cuan Pembagian Dividen dari Emiten Grup Astra
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, IHSG ditutup di atas level MA5. Indikator stochastic RSI mengindikasikan reversal di area oversold dan terjadi penyempitan histogram negatif MACD. Alrich memperkirakan, penguatan IHSG berpotensi berlanjut dengan menguji level 6.150 hingga 6.200.
"Indeks futures Wall Street cenderung bergerak terbatas di tengah sentimen data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari estimasi, meski terjadi kenaikan yield US Treasury," ujarnya.
Di sisi lain, harga minyak Brent bergerak di kisaran US$ 101 per barel. Indikasi peningkatan pasokan global lebih mendominasi sentimen pasar dibandingkan kekhawatiran risiko geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Herditya, pergerakan IHSG hari ini masih akan dipengaruhi oleh harga komoditas dunia serta kondisi domestik setelah diterapkannya batas bawah harga saham Rp 1. Investor juga akan mencermati kondisi domestik di tengah penyampaian pendapat.
Baca Juga: Siasat Mayora Indah Tbk (MYOR) Hadapi Tekanan Biaya
"IHSG masih berpeluang menguat dengan support 6.077 dan resistance 6.149," ujar Herditya.
Herditya merekomendasikan investor memperhatikan ADRO pada kisaran Rp 2.610–Rp 2.650, INCO pada harga Rp 4.420–Rp 4.660 per saham, serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) pada Rp 1.450 hingga Rp 1.485 per saham.