IHSG Berpeluang Lanjut Menguat ke 6.300, Ini Saham Pilihan Analis
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek setelah melonjak 7,57% ke level 5.746,65 pada perdagangan Selasa (9/6/2026).
Kenaikan tajam tersebut terjadi setelah IHSG mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Bursa Asia Melemah Rabu (10/6), Serangan Baru AS ke Iran Dorong Harga Minyak Naik
Founder Republik Investor sekaligus pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, keberhasilan IHSG kembali menembus level psikologis 5.500 menjadi sinyal positif bagi pasar.
Menurutnya, jika sentimen global membaik, nilai tukar rupiah stabil, dan pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang meningkatkan kepercayaan investor, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 6.000 hingga 6.300.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa tantangan ekonomi domestik masih cukup besar. Tingkat suku bunga yang tinggi berpotensi menekan permintaan kredit, memperlambat ekspansi usaha, dan mengurangi aktivitas konsumsi masyarakat.
Di saat yang sama, pelemahan daya beli masyarakat mulai menjadi perhatian karena kenaikan biaya hidup belum sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan pendapatan.
Baca Juga: Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (10/6): Anjlok Rp 20.000 Jadi Rp 2.713.000 Per Gram
"Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, maka pertumbuhan ekonomi domestik dapat melambat dan berpengaruh terhadap kinerja emiten yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga," ujar Hendra dalam keterangannya, Selasa (9/6) malam.
Dari sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama IHSG, investor juga perlu mencermati potensi kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, beban cicilan rumah tangga maupun pelaku usaha meningkat sehingga risiko gagal bayar berpotensi bertambah, terutama pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta debitur yang bergantung pada konsumsi domestik.
Meski kualitas aset bank-bank besar saat ini masih relatif terjaga, pasar akan terus memantau apakah perlambatan ekonomi dan melemahnya daya beli mulai tercermin dalam peningkatan NPL pada beberapa kuartal mendatang.
Baca Juga: IHSG Melonjak 7,57% ke 5.746, Asing Tetap Net Sell Saham Big Bank Kemarin
Menurut Hendra, kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa investor asing masih cenderung berhati-hati meskipun valuasi saham perbankan saat ini telah jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Di sisi lain, Hendra melihat kondisi pasar saat ini justru mulai membuka peluang menarik bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Pasalnya, banyak saham blue chip dengan fundamental kuat diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.
"Secara sederhana, pasar saat ini menawarkan banyak perusahaan berkualitas dengan harga diskon akibat tekanan sentimen," katanya.
Namun, ia menyarankan investor tidak melakukan pembelian dalam jumlah besar sekaligus. Strategi akumulasi bertahap atau dollar cost averaging dinilai lebih tepat mengingat volatilitas pasar masih tinggi dan peluang koreksi jangka pendek masih terbuka.
Investor juga perlu lebih selektif dalam memilih emiten dengan neraca keuangan yang kuat, arus kas sehat, serta kemampuan menjaga profitabilitas di tengah perlambatan ekonomi.
Baca Juga: 7 Saham Cum Dividen Hari Ini (10/6), Yield Ada yang Tembus 12%
Dari sisi sektoral, Hendra menilai sektor perbankan dan telekomunikasi masih menarik karena memiliki fundamental yang relatif kuat meski menghadapi tantangan siklus ekonomi.
Untuk sektor telekomunikasi, saham TLKM dinilai layak diperhatikan dengan target harga Rp 2.760 per saham. Emiten ini memiliki karakter defensif, arus kas yang stabil, serta didukung pertumbuhan kebutuhan layanan data yang terus meningkat.
Di sektor perbankan, BMRI menjadi pilihan utama dengan target harga Rp 4.300 per saham karena memiliki tingkat pencadangan yang kuat dan kualitas aset yang relatif lebih baik dibandingkan rata-rata industri.
Sementara itu, BBNI memiliki target harga Rp 3.420 per saham dan menawarkan potensi pemulihan seiring peningkatan efisiensi serta pertumbuhan kredit korporasi.
Adapun BBRI masih menarik dengan target harga Rp 2.930 per saham berkat dominasinya di segmen UMKM. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan kualitas kredit pada segmen tersebut apabila tekanan daya beli masyarakat berlanjut.
Pada akhirnya, Hendra menilai lonjakan IHSG pada perdagangan kemarin merupakan sinyal positif yang telah lama ditunggu pasar. Meski demikian, penguatan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh tantangan ekonomi telah teratasi.
Baca Juga: Sentimen Kenaikan BI Rate Angkat IHSG, Cermati Saham BMRI, HRTA, dan RATU Hari Ini
Masih terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, mulai dari tingginya suku bunga, potensi perlambatan ekonomi domestik, risiko kenaikan NPL perbankan, pelemahan daya beli masyarakat, hingga masih berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar keuangan Indonesia.
Karena itu, penguatan IHSG saat ini lebih tepat dipandang sebagai awal dari proses pemulihan kepercayaan investor.
"Jika pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat konsumsi domestik, dan menghadirkan kebijakan yang mendukung investasi, maka peluang IHSG untuk membangun tren kenaikan yang lebih berkelanjutan pada semester II 2026 akan semakin besar," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News