Detail TOPIK

Peringatan Beruntun dari Lembaga Asing Jadi Tekanan IHSG Pekan Ini

Peringatan Beruntun dari Lembaga Asing Jadi Tekanan IHSG Pekan Ini

Publish : 2026-02-09 06:05:59 | Oleh : Rashif Usman

KONTAN.CIO.ID - JAKARTA. Pasar saham domestik masih bergerak di zona waspada. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali turun ke bawah level psikologis 8.000 pada akhir perdagangan pekan lalu. Tekanan dana asing alias net sell tetap membayangi arah pasar dalam sepekan ke depan.

Pada Jumat (6/2), IHSG melemah tajam 2,08% ke posisi 7.935,26. Dalam sepekan, IHSG sudah anjlok 4,73%, disertai aksi jual asing atau net sell Rp 3,62 triliun.

Baca Juga: Saham Poultry: Momentum Ramadan Dongkrak Laba, Tapi Ada Ancaman!

Sentimen negatif bertubi-tubi dari lembaga global. Mulai dari Goldman Sachs dan UBS yang menurunkan rekomendasi saham Indonesia, sinyal Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu transparansi, hingga Moodys Ratings yang memangkas outlook Indonesia menjadi negatif, membebani psikologis pasar.

"Penurunan peringkat IHSG memperkuat persepsi bahwa daya tarik pasar domestik di mata investor global sedang menurun," kata pengamat pasar modal dan Founder Republik Investor Hendra Wardana kepada KONTAN, Minggu (8/2).

Dari sisi makro, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai, kunci dana asing mengalir masuk kembali, terletak pada langkah konkret dan komunikasi kebijakan pemerintah, terutama terkait risiko fiskal, independensi Bank Indonesia (BI), serta peningkatan transparansi emiten sesuai tuntutan MSCI.

Hendra menambahkan, peringatan dari S&P Global Ratings mengenai potensi penurunan peringkat utang jika kondisi fiskal melemah, juga menjadi faktor tambahan yang membuat asing menahan pembelian.

Volatilitas tinggi

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, IHSG pekan ini masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Hal ini tercermin dari indikator average true range (ATR) yang berada di atas 230. Ini menunjukkan rentang pergerakan harian IHSG yang melebar dengan area support di 7.680 dan resistance di 8.200.

Audi menilai, di tengah kondisi bursa saham yang belum stabil, investor lebih baik mengutamakan perlindungan modal. Ini mengingat proyeksi terendah atau bottom IHSG belum terkonfirmasi. Sementara average true range (ATR) alias rata-rata pergerakan saham masih menunjukkan volatilitas yang tinggi.

Baca Juga: Intervensi Danantara Akan Mendorong Produksi KRAS

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi menilai, penurunan outlook sovereign Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s berdampak langsung pada penurunan batas atas peringkat (rating cap) berbagai emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom, Pertamina, dan bank-bank utama seperti BMRI, BBRI, BBNI, BBCA dan BBTN. 

Bagi emiten non-BUMN seperti ICBP dan UNTR, risiko meningkat melalui ketergantungan pada stabilitas makro dan akses pendanaan. Kondisi ini mempersempit ruang kenaikan peringkat serta membuat seluruh kelompok emiten lebih sensitif terhadap potensi penurunan peringkat lebih lanjut jika tekanan fiskal dan ketidakpastian kebijakan terus berlanjut. 

Selain itu, ICBP juga memiliki eksposur utang berdenominasi dolar AS yang digunakan dalam akuisisi Pinehill, sehingga pelemahan stabilitas makro, volatilitas nilai tukar, maupun kenaikan premi risiko negara berpotensi mempengaruhi ICBP.

 

Dengan sentimen tersebut, Imam memrprediksi, IHSG pada sepekan ini akan bergerak melemah terbatas, dengan support berada di 7.716 dan resistance di 8.207.

 

Selanjutnya: Saham Poultry: Momentum Ramadan Dongkrak Laba, Tapi Ada Ancaman!

Komentar Publish : 2026-02-09 06:05:59