Detail TOPIK

IHSG Menguat 0,5% Meski Dapat Pengumuman Penundaan Evaluasi dari FTSE (10/2)

IHSG Menguat 0,5% Meski Dapat Pengumuman Penundaan Evaluasi dari FTSE (10/2)

Publish : 2026-02-10 09:40:38 | Oleh : Sanny Cicilia

MOMSMONEY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada perdagangan Selasa pagi, 10 Februari 2026. Indeks acuan domestik ini naik 0,5% ke level 8.071,99 pada pukul 9:10 WIB. 

Sebanyak 364 saham mendorong IHSG. Sementara itu 157 saham melemah, dan 167 lainnya tak bergerak dari posisi sebelumnya. 

Saham-saham berkapitalisasi pasar terbesar di Tanah Air sejatinya bergerak flat cenderung turun. Misalnya saham BREN turun 0,93%. Namun, saham-saham dari Grup Barito lainnya pagi ini cenderung naik, seperti TPIA, CDIA, CUAN, BRPT, dan PTRO. 

Saham BBCA juga naik 0,33%. Sedangkan bank besar lainnya, BMRI menguat 1%, dan BBRI flat cenderung turun.

Saham DSSA, yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar ketiga di bursa juga flat. 

Pagi ini, saham yang menikmati kenaikan tertinggi atau top gainers antara lain INDX, IFSH, VAST, LINK, dan ALKA. Kelimanya mencatatkan kenaikan di atas 24%. 

Sedangkan saham yang paling mencatatkan penurunan terbesar seperti ZONE, TIFA, PDES, NSSS, dan SOHO. 

IHSG menguat 0,5% ke level 8.071,99 pada pukul: 9:10 WIB. 

Evaluasi FTSE

Kenaikan IHSG terjadi meskipun ada kabar kurang mengenakkan lagi dari luar negeri, di mana pengelola indeks FTSE  Russel, bagian dari London Stock Exchange Group memutuskan untuk menunda evaluasi konstituen dari Indonesia untuk periode Maret 2026 dengan alasan ketidakpastian penentuan free float dan potensi gangguan perdagangan di tengah proses reformasi pasar modal. 

Dengan begitu, tidak ad aperubahan besar pada Indeks FTSE sampai evaluasi berikutnya, yaitu pada pengumuman Mei 2026. 

Keputusan FTSE ini menyusul MSCI yang sebelumnya menunda review pasar Indonesia dengan alasan ketidakpercayaan terhadap pengelolaan pasar modal Indonesia.  

Pengamat pasar modal Hendra Wardana melihat, pengumuman FTSE ini bukan mencerminkan penurunan kualitas fundamental pasar modal Indonesia, melainkan menegaskan adanya ketidakpastian teknis dalam proses reformasi pasar, terutama terkait penentuan free float minimum serta potensi gangguan mekanisme selama masa transisi kebijakan. 

 

Selanjutnya: Puradelta Lestari (DMAS) Catat Marketing Sales Rp 1,6 Triliun di Tahun 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Komentar Publish : 2026-02-10 09:40:38