IHSG Sudah Undervalued Namun Investor Asing Masih Wait And See, Ini Kata Analis
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Derasnya arus dana asing keluar dari pasar saham domestik memaksa pelaku pasar menakar ulang posisi Indonesia. Sejumlah penyedia indeks dan lembaga pemeringkat kompak memasang pandangan negatif.
Pada perdagangan Rabu (11/2/2026), investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 526,42 miliar atau setara US$ 31,37 juta. Sejak awal tahun, total net sell asing mencapai Rp 12,97 triliun atau sekitar US$ 772,99 juta.
Tekanan menguat setelah keputusan MSCI, FTSE Russell, Goldman Sachs, dan Moody’s bernada negatif. Sentimen ini membebani Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Baca Juga: IHSG Menguat! Investor Asing Borong Saham Bank Ini Hari Ini (4/2)
Pada Rabu (11/2/2026), IHSG ditutup menguat 1,96% ke posisi 8.290,96 dibanding perdagangan sebelumnya, tetapi sepanjang tahun berjalan ini IHSG sudah terkoreksi 4,02%. Ini membuat IHSG menjadi indeks kinerja terburuk di ASEAN.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai kemunculan sentimen negatif serentak memantik tanda tanya. Namun persepsi investor tetap menjadi penentu utama arah pasar.
“Terkadang muncul pertanyaan di pasar, apakah rangkaian sentimen negatif ini terjadi secara kebetulan karena waktunya berdekatan,” ucapnya saat dihubungi Kontan, Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, kemunculan berbagai pandangan negatif secara bersamaan memicu spekulasi pelaku pasar. Namun pada akhirnya, persepsi dan respons investor tetap menjadi faktor penentu arah pergerakan IHSG.
Baca Juga: Investor Asing Kabur, Cermati Sinyal Bahaya IHSG untuk Pekan Ini
Dia menilai secara fundamental, ekonomi Indonesia masih tergolong solid. Ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang mencapai 5,39% dan inflasi tetap terkendali.
Dari sisi valuasi, Nico melihat IHSG berada di bawah rata-rata historis. Dalam hitungannya, Price Earning Ratio (PER) jangka panjang IHSG berada 14 kali–16 kali dan kini di 12 kali–13 kali.
Kemudian dari indikator Price Book Value (PBV), kata Nico, yang normalnya 2,2 kali–2,4 kali, kini berada sekitar 1,8 kali–1,9 kali. Menurutnya, ini mencerminkan pasar saham Indonesia dalam posisi undervalued.
Baca Juga: IHSG Merah pada Hari Kamis (5/2), Investor Asing Buang Ratusan Miliar Saham Ini
Namun, Nico menilai pemulihan arus dana asing dinilai butuh waktu. Pasalnya, investor global masih wait and see hingga ada kepastian kebijakan regulator dan pemerintah.
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata melihat outflow dipicu sikap hati-hati investor global. Asing menanti hasil komunikasi pemerintah dengan lembaga pemeringkat.
“Investor asing masih dalam posisi wait and see untuk memasuki pasar modal Indonesia kembali. Namun pasar Indonesia masih tetap menarik jangka panjang,” ucap Liza.
Baca Juga: Volatilitas IHSG Diproyeksi Masih Tinggi Pekan Depan, Begini Penjelasan Analis
Menurutnya, valuasi IHSG masih wajar dengan PER sekitar 20,3 kali, sejalan rata-rata lima tahun di 20,4 kali. Sementara, rata-rata PER Asia Pasifik sekitar 19,75 kali. Posisi ini menempatkan IHSG pada level yang relatif fair.
Selanjutnya: Sinergi Mitra Dongkrak Kinerja Paramount Enterprise
Menarik Dibaca: Hujan Ekstrem Landa Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (12/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News