Kepercayaan Hilang, Kinerja IHSG Paling Lemah di Asia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat masih tertinggal dibandingkan bursa Asia lain. Pada penutupan perdagangan Senin (27/4), IHSG melemah 0,32% atau turun 22,97 poin ke level 7.106,52. Sejak awal tahun ini, IHSG termasuk salah satu underperformer di Asia.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, kenaikan sejumlah bursa Asia seperti Nikkei dan Kospi menunjukkan rotasi ke pasar yang lebih growth driven. Terutama yang punya eksposur kuat terhadap kecerdasan buatan dan semikonduktor.
Di dalam negeri, pelemahan IHSG dominan akibat tekanan rupiah, sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga energi global, serta outflow asing yang masih berlanjut.
Derasnya arus keluar dana asing ini perlu menjadi sinyal waspada. Guru Besar Universitas Prasetiya Mulya, Lukas Setia Atmaja mengingatkan, Indonesia pernah mengalami krisis 1998 yang bukan cuma dipicu faktor makro, tetapi juga karena hilangnya kepercayaan yang memicu arus keluar dana secara masif.
Kala itu, "Pasar bereaksi negatif, tidak percaya pemerintah memiliki solusi untuk krisis tersebut," tulis Lukas, dalam kolom Wake Up Call Harian Kontan, Senin (27/9).
Baca Juga: Pasar Modal Terguncang, Aset Kelolaan Kustodian Tetap Mengembang
Dengan sejumlah sentimen yang belum membaik, IHSG diprediksi masih berpeluang tertekan. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah memprediksi, IHSG masih berada dalam tren turun jangka menengah dengan tekanan jual cukup kuat.
Meski begitu, masih ada peluang rebound jangka pendek dalam beberapa hari ke depan. Ini usai koreksi membawa IHSG kembali menguji level fibonacci retracement 61,8% dalam jangka panjang di kisaran 7.140.
Sementara itu Liza menilai, IHSG masih berada dalam fase bottoming, belum masuk fase recovery penuh. Secara teknikal, area 6.9007.000 jadi support penting. Lalu, upside jangka menengah berada di kisaran 7.4007.600, jika tekanan eksternal mereda.
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Dipta Daniswara mengatakan, secara valuasi, IHSG saat ini berada pada level price to earnings ratio (PER) sekitar 16,8 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya di kisaran 18 kali hingga 19,8 kali, sehingga terlihat relatif murah secara historis.
Baca Juga: Strategi Defensif dan Selektif di Tengah Volatilitas Tinggi
Namun, jika menggunakan pendekatan price/earnings to growth (PEG), posisi IHSG justru berada di sekitar 2,5 kali, jauh lebih tinggi dibandingkan Jepang sekitar 0,34 kali, China 0,75 kali, dan Hong Kong 0,82 kali.
"Ini menunjukkan valuasi IHSG tidak cukup menarik relatif terhadap pertumbuhannya, sehingga secara risk-reward kalah kompetitif," tutur Dipta.
Fath juga mengatakan, berdasarkan data Maybank Sekuritas, valuasi price to earnings ratio Indonesia untuk proyeksi tahun penuh 2026 berada di kisaran 11,8 kali, menjadikannya salah satu yang terendah di kawasan ASEAN.
Karena itu, Fath menilai pergerakan pasar bersifat dinamis. Ketika berbagai faktor negatif mulai mereda, aliran dana asing berpeluang masuk kembali secara bertahap ke pasar saham domestik.