IHSG Ditutup Terkoreksi 0,48% ke 7.072 Selasa (28/4), Top Losers: JPFA, AMRT, AMMN
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan Selasa (28/4/2026), sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa saham Asia.
Mengutip data RTI, IHSG ditutup turun 0,48% atau 34,13 poin ke level 7.072,39. Sepanjang perdagangan, sebanyak 350 saham melemah, 339 saham menguat, dan 129 saham stagnan.
Total volume transaksi mencapai 31,9 miliar saham dengan nilai perdagangan sebesar Rp 17,5 triliun.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 0,48% ke 7.072, Top Losers LQ45: JPFA, AMRT dan AMMN, Selasa (28/4)
Sebagian besar indeks sektoral turut menekan pergerakan IHSG. Delapan sektor tercatat melemah, dengan penurunan terdalam terjadi pada sektor non-siklikal sebesar 1,61%, sektor bahan baku 1,48%, dan sektor infrastruktur 0,84%.
Dari jajaran saham unggulan, berikut top losers di indeks LQ45:
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) turun 7,11% ke Rp 2.350
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) melemah 5,69% ke Rp 1.325
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) terkoreksi 5,09% ke Rp 5.125
Baca Juga: SBN Ritel ST016 Akan Ditawarkan Awal Mei, Segini Potensi Kuponnya
Sementara itu, top gainers LQ45 antara lain:
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 3,68% ke Rp 705
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 1,88% ke Rp 3.790
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 1,79% ke Rp 228
Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp 17.243 per Dolar AS, Sentimen Global Risk-Off Kembali Menguat
Pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan saham di pasar negara berkembang Asia yang mulai menjauh dari level tertinggi.
Investor cenderung berhati-hati menjelang rilis laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat yang dinilai akan menjadi ujian bagi reli pasar berbasis kecerdasan buatan (AI).
Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Emerging Markets turun 0,2%, sementara indeks MSCI Emerging Markets global melemah 0,1%.
Sikap hati-hati juga tercermin di pasar valuta asing. Indeks mata uang emerging markets global versi MSCI tercatat turun 0,3%.
Tekanan signifikan terlihat pada peso Filipina yang melemah hampir 1% dan menembus level 61 per dolar AS untuk pertama kalinya, menyentuh rekor terendah di 61,266.
Baca Juga: Kinerja Keuangan PTRO Kuartal I-2026 Tumbuh, Laba Bersih Naik 50,54%
Sepanjang 2026, mata uang ini telah terdepresiasi hampir 4%, menjadi salah satu yang terburukdi kawasan setelah rupee India yang turun hampir 5%.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga masih dibayangi risiko geopolitik. Laporan menyebutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik, sehingga meredupkan harapan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang gangguan pasokan energi global dan mendorong tekanan inflasi, terutama di negara berkembang yang bergantung pada impor energi.
Di sisi lain, pasar juga mencermati kinerja keuangan raksasa teknologi global seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Apple.
“Jika laba sektor teknologi kuat, reli berbasis AI bisa berlanjut dan mendorong saham Asia kembali ke level tinggi. Namun jika mengecewakan, pasar berisiko mengalami koreksi valuasi yang cukup tajam,” ujar Glenn Yin, Direktur Riset ACCM.
Di kawasan Asia Timur, saham Taiwan yang sebelumnya menjadi salah satu penerima manfaat utama tren AI justru terkoreksi setelah mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya.
Berbeda dengan tren regional, indeks KOSPI Korea Selatan justru menguat sekitar 1% dan mencetak rekor tertinggi baru, didorong oleh kenaikan saham sektor otomotif dan baja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News