Indonesia Masih Menanti Giliran Masuknya Dana Asing
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Angin segar mulai berembus ke pasar keuangan negara berkembang setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali Selat Hormuz. Meredanya ketegangan geopolitik memicu investor global kembali memburu aset berisiko dan membuka peluang kembalinya aliran dana asing ke kawasan Asia.
Indeks MSCI Emerging Markets melonjak 2,8% pada Senin (15/6), mendekati level tertinggi yang sempat dicapai pada awal Mei 2026. Dana asing pun mengalir masuk ke sejumlah negara, seperti Vietnam dan Korea Selatan.
Masalahnya, di tengah persaingan memperebutkan dana global yang ketat, Indonesia sedang berada di posisi yang kurang menguntungkan. Pasar domestik masih dihantui spekulasi ancaman penurunan outlook, bahkan rating kredit Indonesia oleh Standard & Poor's (S&P). Kabar yang sampai ke KONTAN, keputusan ini akan diumumkan 18 Juni 2026 esok.
Keputusan S&P berpotensi menjadi penentu apakah Indonesia mampu menikmati gelombang kembalinya dana asing atau justru kembali tertinggal dari negara-negara pesaing di kawasan. Sejatinya, bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, potensi berakhirnya perang AS-Iran menjadi kabar baik, lantaran dapat mengurangi tekanan inflasi dan memberikan ruang yang lebih besar bagi stabilitas ekonomi.
Baca Juga: Pekan Krusial Bagi Pasar Modal
Optimisme terhadap aset negara berkembang juga mulai terlihat dari pandangan sejumlah institusi global. JP Morgan misalnya, menyatakan mulai melihat peluang akumulasi saham-saham ASEAN di tengah membaiknya sentimen pasar dan prospek kinerja emiten.
Co-Founder Pasardana, Hans Kwee mengatakan, selama konflik AS-IRan, investor cenderung meninggalkan emerging market dan memilih negara maju. "Karena itu, sentimen pasar langsung positif jika perang berakhir," ujar Hans, Selasa (16/6).
Meski demikian, peluang masuknya kembali dana asing ke Indonesia belum sepenuhnya terlihat. Pada awal pekan ini, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Korea Selatan mencatat inflow dana asing. Namun, Indonesia membukukan penjualan bersih di pasar saham senilai US$ 5,99 juta.
Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menilai, penguatan IHSG belum banyak ditopang perbaikan fundamental domestik.
"IHSG menguat, tapi asing masih net sell, karena belum ada alasan kuat untuk kembali," kata Nico.
Baca Juga: IHSG Melonjak 7,38% Sepekan, Sektor & Saham Ini Cuan Paling Kencang
Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang mengatakan, investor masih mempertanyakan stabilitas rupiah, disiplin fiskal, independensi bank sentral, hingga kredibilitas kebijakan pemerintah.
Perhatian investor kini tertuju pada keputusan S&P. Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy menilai, jika S&P memberikan outlook negatif atau menurunkan peringkat kredit, dampaknya akan langsung terasa pada berbagai instrumen keuangan. "Rupiah bisa melemah, yield obligasi naik, dana asing keluar," kata Budi.
Namun, para analis yakin, Indonesia belum akan kehilangan status investment grade dalam waktu dekat. Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat memperkirakan, level wajar IHSG berada di sekitar 7.000 dan dapat mencapai 7.500 pada akhir tahun jika sentimen global membaik.