Detail TOPIK

Aksi Net Sell dari Pasar Saham Capai Rp 44 T, Ini Saham Incaran Investor Asing

Aksi Net Sell dari Pasar Saham Capai Rp 44 T, Ini Saham Incaran Investor Asing

Publish : 2026-05-25 19:33:35 | Oleh : Yuliana Hema

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Tanah Air masih belum lepas dari tekanan. Meski ditutup menguat pada Senin (25/5), tetapi net sell dari investor asing masih tetap kencang. 

IHSG ditutup menguat 0,72% ke posisi 6.206,34 pada Senin (25/5). Namun investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 2,22 triliun di seluruh pasar. 

Jika ditarik lebih jauh lagi, IHSG masih terkoreksi 28,22%. Ini sejalan dengan tekanan jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 43,85 triliun di sepanjang tahun ini. 

Baca Juga: Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Ini Saran Bagi Pemilik Saham Batubara Hingga CPO

Tekanan jual investor asing tak bisa terelakkan, terlebih setelah pengumuman dari MSCI dan FTSE yang mendepak sejumlah saham dalam konstituen indeksnya. 

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengatakan outlook pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih dibayangi sentimen yang cukup menantang baik dari global maupun domestik. 

“Pelemahan rupiah, kenaikan BI Rate, rebalancing MSCI dan FTSE hingga wacana implementasi ekspor satu pintu yang membuat investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko di emerging market,” katanya kepada Kontan, Senin (25/5/2026). 

Menurutnya, investor global masih akan mencermati arah kebijakan domestik, stabilitas rupiah serta perkembangan suku bunga global sebelum kembali meningkatkan eksposur secara bertahap ke pasar Indonesia.

“Namun tekanan jual asing mulai terlihat lebih selektif dibanding beberapa waktu lalu. Saham large cap yang likuid, defensif dan fundamental kuat relatif menjadi pilihan utama investor asing,” ucap Andrey.

Andrey bilang investor asing akan cenderung memilih saham dari sektor perbankan besar, konsumer serta beberapa saham komoditas dengan potensi dividend yield yang tergolong besar. 

Equity Research Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menambahkan ada potensi perpindahan likuiditas karena sejumlah saham konglomerasi telah keluar dari indeks global, yakni MSCI dan FTSE. 

Baca Juga: Strategi Mahaka Media (ABBA) Perkuat Keberlanjutan Kinerja Positif di 2026

“Kondisi ini berpotensi mendorong aliran dana beralih ke saham-saham blue chip dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi serta free float sehat seperti BBCA, BMRI, BBNI dan TLKM,” kata dia. 

Adapun Kiwoom Sekuritas memproyeksikan peluang pemulihan IHSG berada di level 7.300 dalam jangka menengah. Namun, kata Azis, saat ini investor asing sedang mencermati keadaan fiskal dan kebijakan dalam negeri. 

Lebih lanjut, Azis menyarankan investor ritel dalam negeri untuk tetap selektif dan tidak hanya mengikuti pergerakan investor asing dalam jangka pendek. Strategi hold dan wait and see masih lebih aman diterapkan. 

“Hold dan wait and see masih lebih aman sambil mencermati peluang akumulasi bertahap pada saham blue chip dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi,” jelasnya. 

Sementara, Andrey menyarankan dengan kondisi pasar yang masih volatil, investor sebaiknya fokus pada fundamental emiten, valuasi yang atraktif serta manajemen risiko. 

Dia menyebut ada peluang pada saham bank besar dengan likuiditas dan dividend yield yang kuat. Selain itu, sektor komoditas seperti energi, batubara, emas dan CPO juga masih menarik. 

Baca Juga: Saham MDKA dan EMAS Kompak Menguat, Rencana Aksi Korporasi Jadi Pendorong

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Komentar Publish : 2026-05-25 19:33:35