Detail TOPIK

Saham Big Caps Mengangkat IHSG, Simak Proyeksi & Rekomendasi Hari Ini (18/11)

Saham Big Caps Mengangkat IHSG, Simak Proyeksi & Rekomendasi Hari Ini (18/11)

Publish : 2025-11-18 04:45:46 | Oleh : Muhammad Alief Andri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 46,45 poin atau 0,55% menjadi 8.416,88 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (17/11).

IHSG mengakumulasi kenaikan 0,31% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG menguat 18,88%.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, penguatan IHSG sebagian besar berasal dari saham-saham penggerak indeks. Market cap besar yang naik itu BBCA naik 1,78%, DSSA 6,58%, TPIA 1,43%, BBRI 1,03%. Belum lagi BMRI naik 1,47% dan TLKM naik 1,69%. CUAN juga naik 2,33%. 

"Kenaikan saham-saham big caps dan blue chips ini menjadi index mover utama," ujar Liza kepada Kontan.co.id, Senin (17/11/2025).

Made with Flourish

Baca Juga: Dikelilingi Sentimen Akuisisi dan Fundamental, Saham INET Melanjutkan Penguatan

Dari eksternal, ia menyoroti bahwa meski pemerintah Amerika Serikat sudah keluar dari government shutdown, data ekonomi tidak akan langsung tersedia. Hal ini karena selama penutupan, pegawai federal tidak bekerja sehingga proses pengumpulan data terhenti. 

"Payroll September kemungkinan tidak akan dirilis. Baru data Oktober yang bisa keluar. Ini penting buat The Fed menentukan arah suku bunga. Probability pemangkasan Desember sudah turun ke sekitar 50 persen," imbuh Liza.

Dari dalam negeri, pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (19/11/2025). Liza menilai BI memiliki peluang terakhir untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 Bps demi mendorong belanja masyarakat dan mengejar target pertumbuhan ekonomi. 

"PDB kuartal III-2025 hanya sedikit di atas 5%, masih jauh dari harapan. Dengan likuiditas global yang longgar dan volatilitas regional rendah, ini momentum yang tepat," katanya.

Investment Analyst Edvisor Provina Visindo Indy Naila menilai, sentimen global masih menjadi perhatian karena meski pemerintahan AS sudah kembali berjalan, kekhawatiran fiskal tetap tinggi dan sejumlah data ekonomi belum tersedia. 

"Outlook suku bunga AS berpotensi ditahan sehingga volatilitas masih membayangi pasar. Domestik fokus ke RDG BI karena rupiah berada di kisaran 16.700," kata Indy. 

Baca Juga: Pemerintah Siap Patok Bea Keluar Emas, Targetkan Penerimaan Hingga Rp 2 Triliun

Prediksi IHSG

Indy memperkirakan IHSG bergerak di rentang 8.354-8.500 pada perdagangan Selasa (18/11/2025). Ia merekomendasikan akumulasi bertahap untuk ICBP (target 10.000), KLBF (1.500), dan AMRT (2.400).

Secara teknikal, Liza menilai IHSG masih berada dalam tren bullish. Support kuat berada di 8.350, sementara resistance terdekat adalah area all time high IHSG di 8.478. 

"Kalau menembus itu, kami masih optimistis IHSG bisa mencapai 8.600 bahkan sebelum akhir tahun. Saham-saham perbankan bisa kembali melanjutkan swing bullish, apalagi kalau BI benar-benar menurunkan suku bunga," ujar Liza.

Senada, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta melihat IHSG masih berada dalam fase uptrend berdasarkan pergerakan MA20 dan MA60 yang membentuk positive crossover

"Arah pasar mulai berfokus pada RDG BI pertengahan pekan ini. Dari global, AS resmi keluar dari shutdown terpanjang sepanjang sejarah, namun dampaknya terhadap data ekonomi masih terasa," ujar Nafan.

Secara teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG masih berpeluang menguat dengan support di 8.355 dan 8.310 serta resistance di 8.448 dan 8.506. Ia menyarankan investor melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat, strategi buy on dip, dan tetap disiplin manajemen risiko.

Dengan kombinasi penguatan big caps, ekspektasi pemangkasan suku bunga BI, dan tren teknikal yang solid, pasar menilai peluang kenaikan IHSG pada perdagangan Selasa masih cukup terbuka, meski sentimen global dan ketidakpastian data ekonomi AS tetap perlu dicermati.

Rekap Perdagangan

Kenaikan IHSG disokong oleh penguatan enam indeks sektoral. Sektor properti dan real estat melesat 2,41%. Sektor barang konsumsi nonprimer melonjak 2,03%.

Sektor energi terangkat 0,91%. Sektor infrastruktur menanjak 0,90%.

Sektor keuangan menguat 0,63%. Sektor perindustrian naik 0,30%.

Lima sektor turun di tengah penguatan IHSG. Sektor barang baku terjun 2,06%. Sektor teknologi melorot 0,98%.

Sektor transportasi dan logistik melorot 0,38%. Sektor kesehatan melemah 0,25%. Sektor barang konsumsi primer turun 0,22%.

Total volume transaksi bursa mencapai 41 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 21,08 triliun. Sebanyak 354 saham menguat. Ada 287 saham melemah dan 173 saham flat.

Made with Flourish

Investor asing mencatat net buy atau beli bersih Rp 710,06 miliar saat IHSG naik. Net buy asing di pasar reguler mencapai Rp 666,66 miliar. Sedangkan net buy asing di pasar negosiasi sebesar Rp 43,40 miliar.

Saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 374,5 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 360 miliar, dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 102,4 miliar.

Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 321,5 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 124,2 miliar, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp 80,3 miliar.

Komentar Publish : 2025-11-18 04:45:46