Detail TOPIK

Proyeksi IHSG Bulan Juni: Ada Potensi Rebound Teknikal, Tapi Masih Rawan Tekanan

Proyeksi IHSG Bulan Juni: Ada Potensi Rebound Teknikal, Tapi Masih Rawan Tekanan

Publish : 2026-06-02 07:15:41 | Oleh : Rashif Usman

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki bulan Juni, pelaku pasar berharap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa bangkit setelah terpuruk cukup dalam sepanjang tahun ini. Tapi tampaknya, pemulihan IHSG masih menghadapi jalan terjal lantaran masih ada sejumlah tekanan yang membayangi.

Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5), IHSG berada di level 6.127,38 atau telah merosot 29,14% sejak awal tahun. Di saat yang sama, investor asing masih terus meninggalkan pasar domestik dengan nilai jual bersih mencapai Rp 45,45 triliun year to date (ytd).

Selain tekanan global dari arah suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, dan ketegangan geopolitik, IHSG juga dihadapkan pada sejumlah ketidakpastian kebijakan di dalam negeri.

Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menilai, IHSG masih akan bergerak volatil di bulan Juni. Investor akan mencermati stabilitas rupiah, arah suku bunga Bank Indonesia, arus dana asing, serta berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan hilirisasi.

Baca Juga: Cum Date Dividen 7 Emiten LQ45 Pekan Ini, Cek Juga Potensi Dividen yang Antre RUPST

Menurut Elandry, peluang technical rebound memang terbuka apabila dana asing mulai kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, penguatan tersebut belum tentu menandakan perubahan tren yang lebih kuat.

"Ada peluang technical rebound jika arus dana asing mulai masuk ke emerging market termasuk Indonesia. Juni berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan sideways to slightly bullish," kata Elandry.

Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengingatkan, pasar masih berada dalam fase yang sangat sensitif. Selain tekanan terhadap rupiah yang sempat menembus level Rp 17.800 per dolar AS, investor juga tengah menunggu implementasi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk peran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dalam tata kelola ekspor komoditas.

Menurut Liza, tujuan kebijakan ekspor satu pintu sebenarnya dinilai positif karena berpotensi meningkatkan transparansi ekspor, mengurangi potensi under invoicing, dan meningkatkan posisi tawar Indonesia terhadap komoditas strategis. Namun pasar justru lebih fokus pada risiko implementasi dibanding tujuan kebijakan tersebut.

Pasalnya, saat dana asing masih keluar dari pasar domestik dan rupiah berada di bawah tekanan, setiap perubahan kebijakan yang berpotensi memengaruhi mekanisme bisnis emiten dapat diterjemahkan sebagai tambahan risiko investasi.

Kekhawatiran pasar akan meningkat apabila DSI berkembang menjadi instrumen yang memiliki kendali lebih besar terhadap mekanisme ekspor, mulai dari penetapan harga, pemilihan pembeli, hingga pengaturan kontrak perdagangan komoditas.

"Pertanyaan terbesar investor saat ini bukan lagi apa tujuan kebijakannya, melainkan siapa yang menjalankan, seberapa transparan mekanismenya, dan seberapa efisien implementasinya," ujar Liza.

Proyeksi IHSG

Prospek IHSG Juni pun bergantung kemampuan pemerintah menjaga kepastian regulasi dan kepercayaan investor di tengah derasnya arus keluar modal asing. Dari sisi teknikal, Liza menilai kondisi IHSG masih jauh dari aman.

Posisi IHSG saat ini bahkan kembali mendekati level terendah tahun lalu di area 5.882. Dalam kondisi pasar yang masih berada dalam tren bearish kuat, indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI) tidak selalu dapat menjadi acuan utama. Pasalnya, RSI dapat bertahan cukup lama di area oversold tanpa menunjukkan sinyal pembalikan arah yang signifikan.

Area 6.000 hingga 5.882 menjadi zona support penting yang saat ini menjadi tumpuan harapan pasar. "IHSG akan sulit mengulang kejayaan di 9.000, bahkan jika IHSG rebound ke 7.000 pun itu masih dalam trend bearish pola channel," tambah Liza.

Baca Juga: IHSG Kehabisan Tenaga, Hajatan IPO Ikut Nelangsa

Sementara itu Elandry memaparkan tiga skenario yang dapat menjadi acuan. IHSG berpeluang bergerak ke kisaran 7.4507.550 dalam skenario optimis, lalu rentang 7.1507.350 dalam skenario moderat dan 6.9007.050 dalam skenario pesimis.

Elandry melihat investor masih cenderung fokus pada sektor yang defensif namun tetap memiliki earnings visibility yang baik. Misalnya, sektor bank big caps, konsumer, telekomunikasi, serta komoditas tertentu yang masih ditopang harga global.

Selain itu, saham-saham konglomerasi juga mulai menunjukkan pergerakan yang lebih aktif sehingga berpotensi kembali menjadi perhatian pelaku pasar dalam jangka pendek.

Komentar Publish : 2026-06-02 07:15:41