Detail TOPIK

Prediksi IHSG Selasa (1/9): Investor Cermati Inflasi dan Geopolitik

Prediksi IHSG Selasa (1/9): Investor Cermati Inflasi dan Geopolitik

Publish : 2026-09-01 04:50:09 | Oleh : Yuliana Hema

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 7,36 poin atau 0,11% menjadi 6.525,48 pada perdagangan Senin (31/8).

IHSG menguat 4,64% sepanjang Agustus 2026. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG masih melemah 24,53%.

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menyampaikan tekanan akan datang dari pidato Chairman the Fed yang cenderung hawkish, konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan hingga koreksi harga emas. 

“Serta pelaku pasar tengah mengantisipasi efektifnya rebalancing indeks MSCI bulan Agustus, telah menjadi faktor-faktor yang memengaruhi tekanan indeks ,” jelasnya, Senin (31/8). 

Baca Juga: SE Sisa Kuota Internet Langkah Tepat tapi Perlu Dinaikkan Jadi Permen Agar Mengikat

Alrich menjelaskan Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level MA5 dan Stochastic RSI membentuk indikasi reversal di area pivot. Namun, lanjut dia, indikator histogram positif MACD melemah. 

“Sehingga diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6,450-6,570 pada perdagangan awal September 2026,” kata Alrich. 

Di sisi lain, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG menguat dengan kecenderungan terbatas. Investor dapat mencermati support di level 6.502 dan resistance 6.537.

“Investor menanti ada rilis data inflasi dan neraca dagang Indonesia, tak hanya itu, investor juga mencermati tensi geopolitik Timur Tengah yang belum meredam,” jelasnya.  

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menambahkan data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh sebesar 2,86% YoY dan rilis data PMI manufaktur yang diperkirakan masih di zona ekspansif atau di level 50,5. 

“Sehingga hal ini akan cenderung direspons moderat oleh pasar karena belum adanya perubahan materiil,” kata Audi.

Audi mencermati pergerakan IHSG juga dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah seiring dengan pelemahan DXY sehingga pasar akan cenderung merespons positif jika tren berlanjut. Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.722 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (31/8). 

“Di sisi lain, kenaikan harga minyak pasca serangan militer AS dengan target rocket launcher dan menjadikan serangan pertama lebih dari sebulan terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran pasar,” jelasnya. 

Oleh karena itu, Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 6.428 dan resistance 6.585 dengan indikator MACD menunjukkan tren yang melandai. 

Untuk perdagangan Selasa (1/9), Kiwoom Sekuritas merekomendasikan speculative buy MEDC dengan support di Rp 1.340 dan resistance di level Rp 1.545. Kemudian trading buy ESSA dengan area support dan resistance di Rp 610–Rp 720.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 7,36 poin atau 0,11% menjadi 6.525,48 pada perdagangan Se

Baca Juga: Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak

Rekap Market 31 Agustus 2026

Delapan indeks sektoral menyokong kenaikan IHSG hari ini. Sektor perindustrian melonjak 1,46%. Sektor energi melejit 1,12%.

Sektor keuangan menguat 0,67%. Sektor infrastruktur naik 0,64%. Sektor properti dan real estat terangkat 0,53%.

Sektor transportasi dan logistik menanjak 0,47%. Sektor barang konsumsi primer menguat 0,29%. Sektor barang konsumsi nonprimer naik 0,21%.

Tiga sektor turun di tengah kenaikan IHSG. Sektor kesehatan terjun 1,66%. 

Sektor barang baku melorot 0,40%. Sektor teknologi melemah 0,16%.

Total volume transaksi bursa mencapai 51,34 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 25,02 triliun. Sebanyak 392 saham menguat. Ada 233 saham melemah dan 166 saham flat.

Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 434,22 miliar di seluruh pasar saat IHSG menguat. Net sell asing di pasar reguler mencapai Rp 710,56 miliar. Sedangkan di pasar tunai dan pasar negosiasi, ada net buy atau beli bersih asing Rp 276,34 miliar.

Saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 371,3 miliar, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp 261,2 miliar, dan PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) Rp 135 miliar.

Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp 681,9 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 189,4 miliar, dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) Rp 129,4 miliar.

Komentar Publish : 2026-09-01 04:50:09