Detail TOPIK

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang

Publish : 2026-01-26 14:45:31 | Oleh : Sanny Cicilia

Saham tambang logam berkilauan di awal tahun ini. Kenaikan harga komoditas membuat saham-saham ini berkilauan. Emiten tambang logam juga tampak agresif mempercepat konstruksi di tambang baru. Investor pun terpukau.

Padahal, emiten-emiten tambang logam berpotensi besar membawa risiko terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG. Ini terlihat dari penilaian ESG mereka, berdasarkan lembaga rating Morningstar Sustainalytics.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), misalnya, sepanjang tahun ini, harga sahamnya sudah naik lebih dari 40% hingga Kamis (22/1). Skor risiko terhadap ESG 27,08.

Berdasarkan pengelompokkan oleh Sustainalytics, skor 1020 disematkan untuk perusahaan yang dianggap memiliki risiko ESG rendah. Level 2030, dianggap memiliki risiko ESG sedang. Sedangkan level 3040, dianggap memiliki skor risiko ESG tinggi. Dan di atas 40, perusahaan dianggap memiliki risiko ESG yang berat.

Sustainalytics melakukan penilaian terhadap eksposure bisnis dan sikap manajemen dalam menangani isu lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Emiten dengan skor ESG sedang antara lain, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yaitu 33,04. Saham ANTM melonjak 116% di 2025, dan berlanjut lagi naik 31% sejak awal tahun hingga Kamis (22/1) lalu.

Tapi, sebagian lainnya berada di skor cukup berat. Seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mendapat nilai 42,65. Saham tambang tembaga ini mencatatkan kenaikan harga saham 12,8% dari awal tahun sampai Kamis (22/1).

Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang sedang mempercepat pembangunan tambang emas bawah tanah di Sulawesi Tengah memiliki skor ESG 50,29. Sahamnya pernah melesat 148% dalam sebulan ketika September 2025 lalu. Di tahun ini, sahamnya masih menguat 3%.

Pengamat Pasar Modal dan Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menjelaskan, sebenarnya, investor juga mengamati risiko emiten tambang ini terhadap ESG. Hanya saja, saat ini, tidak ada sektor lain yang cukup menarik untuk berpindah. "Sektor properti masih lesu, otomotif juga. Perbankan juga masih turun," kata dia.

Selain itu, investor menilai, tidak semua perusahaan tambang melakukan pelanggaran terhadap ESG. Untuk beroperasi, perlu Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk menjaga perusahaan berjalan sesuai ketentuan. Ini alasannya, investor masih menaruh perhatian pada saham-saham tambang.

Saat ini, dia melihat, harga saham tambang logam masih tersengat oleh terbangnya harga komoditas terkait. Kebutuhan akan tembaga, nikel, dan emas masih tinggi terutama di tengah gencarnya pengembangan infrastruktur data center dan artificial intelligence (AI).

Namun, ada risiko yang membayangi saat harga yang sudah beterbangan. Sesekali, saham ini terkena aksi ambil untung atau profit taking. Cuma, harganya akan naik kembali karena tren pendorong masih ada.

Di sisi lain, harga komoditas ini juga dipengaruhi isu global dan keputusan regulasi pemerintah, sehingga berpeluang menghentikan reli saham komoditas dan menahan laju saham terkait. "Kalau saya merekomendasikan saham-saham ini hold saja. Karena sudah naik berkali lipat, tidak usah mengejar kereta agresif membeli saham-saham ini," ujar Teguh.

 

Saham pilihan

 

Bukan hanya menarik bagi investor lokal, saham-saham tambang logam juga kembali diakumulasi investor asing. Saham PT Vale Indoneska Tbk (INCO) mencatatkan nilai beli bersih atau net buy mencapai Rp 1,33 triliun sepanjang tahun ini, ANTM Rp 1,31 triliun, MDKA sebesar Rp 799 miliar, dan BRMS Rp 477,2 miliar.

Dengan kinerja saham yang berpendar dan prospek yang positif, wajar analis mengerek penilaian terhadap saham komoditas tertentu.

JP Morgan, misalnya, kini lebih optimistis dengan komoditas nikel di Indonesia. Tadinya, JP Morgan hanya menilai bullish produsen bijih nikel saprolit seperti ANTM.

Tetapi, Benny Kurniawan, Tim Analis ASEAN Metals JP Morgan Sekuritas Indonesia, melihat, langkah pemerintah Indonesia yang berencana membatasi produksi nikel untuk mengatasi kelebihan pasokan, bisa menjaga harga nikel komoditas tambang ini.

Pemerintah sebelumnya mengatakan, kuota produksi nikel nasional tahun ini sekitar 250 juta wet metrik ton (wmt), turun sekitar 30%-35% dari sebelumnya sebanyak 370 wmt.

Sehingga, saham penyedia bijih nikel berkadar rendah, limonit dan pemain smelter rotary klin-electric furnace (RKEF) seperti INCO dan MDKA juga menjadi lebih menarik.

Yuk, simak lebih banyak rekomendasi untuk saham-saham tambang logam berkapitalisasi pasar besar di bursa.

 

 AMMN

 

Saham Amman Mineral Internasional (AMMN) memiliki kapitalisasi pasar Rp 567,5 triliun, terbesar ketujuh di bursa Indonesia. Sejak awal tahun, sahamnya naik 22% di tahun ini.

Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan mempertahankan rekomendasi beli saham AMMN, dengan target harga Rp 11.000. Pada Kamis (22/1) harganya di Rp 7.675.

Salah satu katalis positif bagi AMMN adalah konsolidasi di antara perusahaan tembaga raksasa global. Glencore dan Rio Tinto melanjutkan pembicaraan rencana megamerger. Aksi akuisisi oleh Teck Resources juga tinggal selangkah mendapatkan restu regulator Uni Eropa. Konsolidasi industri ini menjadi potensi katalis untuk kenaikan harga nikel.

Dimulainya Fase 8 Tambang Batu Hijau pada kuartal I-2026 diyakini menjadi katalis utama bagi AMMN. Operasi penambangan ini akan menghasilkan 485 juta pon tembaga dan 579 oz emas atau 113% kenaikan produksi tembaga dan 543% emas. Smelter yang dikembangkan AMMN juga diperkirakan sesuai jadwal beroperasi pada 2027 mendatang.

 

 BRMS

 

Berkapitalisasi pasar Rp 174 triliun, saham BRMS menjadi pilihan di antara saham emas. Analis Gema Goeyardi dari Astronacci Sekuritas memperkirakan, pertumbuhan laba BRMS akan membawa harga saham ini ke level baru.

Harga emas mempercepat pertumbuhan laba dari BRMS. Sementara pemerintah mempercepat infrastruktur tambang emas bawah tanah di Poboya, Sulawesi Tengah, dengan target beroperasi pada 2027. Beroperasinya tambang ini diyakinkan akan mendorong mendorong kenaikan signifikan bagi BRMS di paruh kedua 2027.

Bukan cuma itu, BRMS memproses Carbon in Leach (CIL) pertama di Poboya. Gema pun merekomendasikan beli saham BRMS, dengan target harga Rp 1.400 per saham, mencerminkan price to book value (PBV) 7,87 kali di tahun ini.

 

 ANTM

 

Antam memiliki kapitalisasi pasar mencapai Rp 100,45 triliun saat ini. Kenaikan harga komoditas emas turut mengerek daya tarik saham emas. Pekan lalu, harga emas batangan Antam rekor tertinggi mendekati Rp 2,8 juta per gram.

Namun, bukan emas yang menjadi perhatian analis JP Morgan, melainkan produksi bijih nikel kadar tinggi saprolit dari tambang Antam.

Dari laporan keuangan kuartal III-2025, bijih nikel menyumbang penjualan kedua terbesar setelah emas. Jika penjualan emas naik 65% year on year menjadi Rp 58,67 triliun, penjualan bijih nikel melonjak 171% menjadi Rp 9,53 triliun.

Porsi terhadap penjualan memang 13% dari total Rp 72,03 triliun. Tapi, penjualan bijih nikel Antam terlihat menjanjikan. Di akhir kuartal III-2025 lalu, volume penjualan 11,23 juta wmt, meningkat 97% dibanding setahun sebelumnya.

Analis JP Morgan Benny Kurniawan memperkirakan, Antam semakin diuntungkan seiring rencana pemerintah membatasi produksi nikel.

Tahun ini, dia memperkirakan, ANTM mencapai laba Rp 9,7 triliun, atau tumbuh rata-rata (CAGR) 22% per tahun dari 2025 ke 2027. Lonjakan harga emas juga akan memberi keuntungan bagi ANTM.

Dia menaikkan pandangan terhadap ANTM menjadi overweight dari netral dengan target harga Rp 4.500 per saham.

Analis BRI Dareksa Sekuritas Andhika Audrey melihat potensi pertumbuhan saham ANTM ke depan dari emas dan nikel. Manajemen Antam menyatakan, penjualan emas yang menyumbang 81% dari penjualan, akan kembali normal menjadi sekitar 38 ton pada 2026, seiring dengan dibukanya kembali impor emas sejak November 2025 lalu. Antam menargetkan impor menyumbang volume penjualan sekitar 30% dan pulihnya tambang dari PT Freeport Indonesia berkontribusi 17%.

Bukan hanya volume produksi yang kembali naik, Antam juga diuntungkan dari kenaikan harga ore atau bijih nikel dan alumina. Andhika menegaskan kembali rekomendasi buy saham ANTM dengan target harga lebih tinggi Rp 4.800.

 

 INCO

 

Optimistis dengan komoditas nikel, Andhika juga menilai positif saham INCO. Vale Indonesia akan diuntungkan dari kenaikan harga nikel, seiring rencana monetisasi bijih berjalan sesuai rencana. Kenaikan harga nikel juga didorong oleh potensi pemangkasan kuota di RKAB Indonesia 2026 yang bisa mengubah pasokan nikel global dari surplus sekitar 107 kilo ton, menjadi defisit 0,7-1 juta ton.

Dia berasumsi, harga nikel bisa naik menjadi US$ 17.000-17.500 per ton dibanding sebelumnya 16.500 per ton, sehingga meningkatkan proyeksi laba INCO di 2026-2027, meski dengan asumsi volume konservatif. Andhika mempertahankan rekomendasi buy saham INCO, dengan target harga lebih tinggi jadi Rp 6.800 per saham.

 

 MDKA

 

Benny Kurniawan melihat saham MDKA dalam enam bulan terakhir cukup tertinggal dibanding anak usahanya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang memang bergerak di bidang tembaga dan emas.

Saham MBMA naik 27% year to date, sementara EMAS menguat 5,78% di periode yang sama. Tapi, sekarang MDKA terlihat kembali menarik.

MDKA masih memiliki aset TBCopper yang dalam tahap pengembangan. Kenaikan harga tembaga diyakini meningkatkan kelayakan proyek tersebut untuk direalisasikan. Selain itu, MDKA memiliki kepemilikan mayoritas atas aset TBGold, yang hingga saat ini masih menghasilkan sekitar 100.000 ons emas per tahun.

Dia menilai, aset TBCopper dan TBGold sama sekali belum tercermin dalam valuasi pasar, padahal kedua bisnis tersebut memiliki nilai gabungan sekitar US$ 2,5 miliar. Melihat potensinya, JP Morgan menaikkan rating MDKA jadi overweight dari netral dengan target harga baru lebih tinggi di Rp 3.330.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas melihat, saham MBMA masih bullish dan menguji level resistance Rp 810Rp 820. Jika ditembus, maka batas kuat berikutnya di Rp 840Rp 880.

 

 NCKL

 

Emiten nikel dari Grup Harita ini juga menjadi salah satu idola investor. Harga sahamnya naik 24% year to date.

NCKL atau Harita Nickel diyakini siap mendulang pendapatan lebih tinggi di tahun 2026, ditopang kenaikan volume dan rampungnya proyek baru. Proyek RKEF dari anak usahanya, PT Kanunia Permai Sentosa (KPS) berjalan sesuai rencana dan dijadwalkan beroperasi pada kuartal I-2026. Dengan kapasitas sebelumnya mengolah 60.000 TNi feronikel per tahun, akan naik menjadi 185.000 TNi per tahun.

Anak usahanya yang lain, Obi Nickel Cobalt yang mengoperasikan pabrik HPAL dengan kapasitas penuh tahun ini. Sementara itu, anak usahanya yang lain di sektor tambang, Gane Tambang Sentosa akan mulai berproduksi tahun ini.

Performa keuangan juga diperkirakan menjadi lebih kuat di 2026. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 10,1 triliun, naik 19%. Pendorongnya, kenaikan penjualan ore nikel dengan margin sampai 50%, jauh lebih tinggi dibanding margin 25% dari feronikel. Selain itu, volume penjualan saprolit diperkirakan tumbuh sampai 50%

Tim Riset Ina Sekuritas merekomendasikan buy saham NCKL, dengan target harga Rp 1.615 per saham.

Teguh Hidayat juga cukup menyukai saham NCKL di antara saham tambang logam. Menurutnya, penambangan bijih nikel di kawasan Obi, Halmahera, cukup aman dan stabil. Tetapi, dia merekomendasikan hold saham NCKL.

Nah, meskipun banyak pelaku pasar masih tertarik dengan saham-saham tambang logam, rekomendasi ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Jika masih tertarik dengan saham-saham ini, sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing. Jadi, kenali perusahaan yang akan dipilih dan jangan sekadar ikut-ikutan, ya!

Selanjutnya: Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai

Komentar Publish : 2026-01-26 14:45:31