Detail TOPIK

ESG MEDC: Energi Terbarukan Geothermal Grup Medco Semakin Mengepul

ESG MEDC: Energi Terbarukan Geothermal Grup Medco Semakin Mengepul

Publish : 2025-09-29 08:57:43 | Oleh : Sanny Cicilia

BONDOWOSO. Berdampingan dengan Taman Wisata Alam Kawah Ijen, Matahari cukup terik jelang siang hari, Sabtu (20/9), di area Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ijen milik PT Medco Cahaya Geothermal.

Kepulan uap putih tiba-tiba menyembur dari balik pipa produksi PLTP Ijen. Rupanya, bak menyatu dengan awan putih yang menghiasi langit biru cerah di Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

"Uap tersebut dikeluarkan jika ada permintaan PLN untuk mengurangi daya," ujar Manajer Operasional PT Medco Cahaya Geothermal (MCG) Endang Juliana. Biasanya, permintaan ini datang ketika tidak banyak kebutuhan listrik yang dipakai, seperti di siang hari. Tapi, begitu menjelang Magrib, PLTP Ijen injak gas lagi untuk menyetorkan daya kepada PLN.

Di bagian produksi, panas bumi yang ditarik dari dalam kedalaman 2.500-2.900 meter, dipisahkan ke dua pipa separator, steam (uap), dan brine (air panas). Dari situ, keduanya dialirkan ke bagian operasional.

Endang menjelaskan, pembangkit Ijen menggunakan teknologi two-phase binary. Salah satu keunggulannya, memungkinkan lebih banyak sumber digunakan yaitu steam dan brine. Bahkan, sumber dengan temperatur yang lebih rendah juga bisa digunakan.

Biasanya, di PLTP konvensional hanya menggunakan uap panas 250 derajat Celcius ke atas saja untuk menggerakkan turbin. Steam dan brine juga tidak langsung menyentuh turbin, melainkan diolah untuk mendapat tenaga dari heat exchanger sebagai penggerak.

Di fase terakhir, geothermal fluid yang ditarik, bisa dikembalikan atau direinjeksi ke dalam perut Bumi. Jika sudah "matang" kembali, ditarik lagi ke atas untuk masuk ke proses produksi, tanpa melepas karbon CO2 ke udara.

"Ini makanya, panas bumi disebut renewable, karena bisa terbarukan," kata Endang. Dengan begitu, teknologi ini, ia klaim, lebih efisien mengelola sumber daya dan lebih bersih.

Kelebihan lainnya, konversi dari panas bumi jadi listrik untuk PLN juga lebih pendek dari pembangkit konvensional.

"Ketika PLN minta kami menurunkan atau menaikkan daya, itu sudah bisa terlaksana dalam waktu 10 menit hingga 15 menit saja," ungkap Endang.

Selain menghasilkan energi bersih, fasilitas Ijen juga merangkul masyarakat sekitar. MCG mendukung pengembangan produk teh berbahan baku jahe dan pandan dengan melibatkan ibu-ibu PKK yang berasal dari Desa Kaligedang.

Azis Syaiful Anwar, External Relation MCG, bilang, perusahaannya membantu proses produksi, pengemasan, serta mengajarkan strategi pemasaran kepada ibu-ibu PKK Desa Kaligedang yang lokasinya sekitar 20 menit dari PLTP Ijen.

"Jadi, bukan cuma geotermal, kami harus ada program bermanfaat untuk masyarakat dan mereka juga senang bekerjasama dengan kami," katanya.

Sandy Fitrianti, salah satu anggota PKK Desa Kaligedang, mengaku, kehadiran MCG sangat membantu dalam pengembangan produk. Sebagian besar produk diorder dari MCG dan dijual kepada masyarakat sekitar. Mereka juga memasarkan ke marketplace. Dalam sebulan, ibu-ibu PKK Kaligedang bisa memproses 100 pieces pesanan teh jahe pandan.

 

Kontribusi energi

 

MCG merupakan perusahaan patungan antara PT Medco Power Indonesia dan PT Ormat Technologies Inc. Medco Power Indonesia sepenuhnya dimiliki oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Memulai commercial operation date (COD) pada 7 Februari lalu, PLTP Ijen tahap I memproduksi listrik 35 megawatt (MW) dengan perjanjian jual beli listrik (PJBL) selama 30 tahun ke depan dengan PLN.

Amri Siahaan, Chief Administrative Officer MedcoEnergi, mengatakan, perusahaan sudah memulai feasbility study untuk pengembangan fase II PLTP Ijen. Nantinya, ini menambah kapasitas 20 MW, sehingga menjadi 55 MW.

"Kapasitas penuh PLTP ini mencapai 110 MW, menyuplai listrik ke sekitar 85.000 rumahtangga, dan menghindari 230.000 ton emisi CO2 per tahun," sebut Amri. Total pengembangan pembangkit Ijen diperkirakan memakan biaya US$ 140 juta atau Rp 2,3 triliun.

Selain PLTP Ijen, MCG memiliki beberapa portofolio lapangan panas bumi. Yang sudah lebih dulu beroperasi, PLTP Sarulla di Tapanuli dengan kapasitas 330 MW. Perusahaan juga masuk eksplorasi dua fasilitas lainnya, yaitu pembangkit Bonjol di Sumatra Barat dan Samosir di Sumatra Utara.

Bukan hanya geotermal, MedcoEnergi punya portofolio energi bersih lainnya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Yang terbaru, Medco Power memulai operasi komersial PLTS kapasitas 25 MWp pada kuartal II lalu di Bali Timur.

Proyek ini dikembangkan melalui kerjasama Medco Power dan Solar Philippines dan dioperasikan berdasarkan PJBL selama 20 tahun dengan PLN.

PLTS Bali Timur menghasilkan sekitar 50 GWh listrik bersih per tahun, setara dengan kebutuhan energi untuk sekitar 42.000 rumahtangga.

Sepanjang masa operasionalnya, pembangkit ini diproyeksikan bisa menghindari lebih dari 800.000 ton emisi CO2. Total biaya proyek ini sekitar US$ 22 juta atau Rp 368,41 miliar.

Ke depan, Medco juga berencana mengembangkan PLTS di Pulau Bulan, Kepulauan Riau. Proyek PLTS ini akan memiliki kapasitas sebesar 600 MW dan disalurkan ke Singapura melalui kabel laut. Dalam pernyataan resminya pertengahan tahun ini, Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan, rencana ekspor listrik ini telah mendapat dukungan pemerintah kedua negara.

Dan, berusia belum setahun, PLTP Ijen dan PLTS Bali Timur sudah berkontribusi bagi pendapatan Medco dari penjualan listrik ke PLN. Sebagai gambaran, total penjualan ketenagalistrikan mencapai 1.994 GWh di akhir semester I-2025.

Dari total tersebut, pembangkit dengan energi renewable menyumbang penjualan 497 GWh, naik 21% year on year.

Penjualan setrum dari PLTP Ijen dan PLTS Bali Timur ini mengimbangi penurunan penjualan ketenagalistrikan akibat pemeliharaan di pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Riau, gempa dekat fasilitas geotermal Sarulla di Tapanuli, serta banjir di PLTS Sumbawa.

Memang, porsi listrik dari pembangkit terbarukan ini masih 25%. Namun, manajemen Medco tetap optimistis mencapai target penjualan 4.300 GWh di akhir 2025 nanti.

Menurut Roberto Lorato, CEO MedcoEnergi, proyek renewable merupakan bagian penting dari peta jalan mencapai target net zero emission untuk Scope 1 dan 2 pada 2050, dan Scope 3 di 2060, serta mendukung ketahanan energi dan tujuan iklim Indonesia.

Pada Agustus, MedcoEnergi mencatat penurunan emisi gas rumah kaca Cakupan 1 dan 2 lebih dari 1,5 juta ton CO2e dibanding tahun dasar 2019. Jumlah ini melampaui target 2025 sebesar 1,08 juta ton CO2e atau 20% dari tahun dasar 2019.

Di tengah langkah perusahaan untuk meningkatkan sumber energi bersih, MEDC membukukan penurunan laba di akhir semester I-2025, sampai 81% year on year. Penurunan ini lebih terimbas harga jual rata-rata minyak yang turun dan kerugian anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Tapi, dengan beroperasinya proyek renewable baru, dia yakin, kinerja perusahaan sebenarnya menunjukkan ketahanan finansial portofolio.

Komentar Publish : 2025-09-29 08:57:43