Detail TOPIK

Demonstrasi Memanas Membuat Rupiah Rontok dan IHSG Anjlok

Demonstrasi Memanas Membuat Rupiah Rontok dan IHSG Anjlok

Publish : 2025-08-30 06:00:37 | Oleh : Chelsea Anastasia, Rilanda Virasma

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar finansial domestik tersungkur. Aksi demonstrasi dari berbagai elemen masyarakat yang mencuat sejak Senin (25/8) hingga jatuh korban jiwa pengemudi ojol akibat aksi brutal Korps Brigade Mobil (Brimob) Kamis malam (28/8), meningkatkan kekhawatiran terhadap ketidakstabilan politik dan ekonomi.  

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,53% dibanding sehari sebelumnya ke level 7.830,49 pada akhir perdagangan Jumat (29/8). IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah di 7.769 pada sesi perdagangan pertama. Asing kemarin juga net sell jumbo Rp 1,12 triliun di seluruh pasar.

Nilai tukar rupiah ambruk 0,89% ke level Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (29/8) dibanding sehari sebelumnya. Padahal rupiah sempat menguat hingga Rp 16.259 di awal pekan ini, seiring dolar AS yang tertekan sentimen pemangkasan bunga acuan The Federal Reserve. 

Persepsi risiko pasar yang meningkat juga tercermin dari kenaikan credit default swap (CDS) 5 tahun Indonesia ke 70,13 pada Jumat (29/8) dari sehari sebelumnya di level 67,47.  Kenaikan CDS disertai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.

Yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun naik tipis ke 6,35% pada Jumat (28/8) dari sehari sebelumnya di level 6,31%. Yield SBN 5 tahun juga naik secara harian ke 5,75% dari 5,65%. 

Baca Juga: Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.500 Per Dolar AS di Akhir Agustus 2025

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman melihat, aksi demonstrasi berpotensi memperbesar foreign outflow, terutama pada SBN yang sensitif terhadap persepsi risiko.

Ia melihat, tekanan muncul melalui pelemahan rupiah, peningkatan biaya lindung nilai (hedging), dan aksi jual cepat oleh investor jangka pendek.

Berdasarkan data setelmen Bank Indonesia (BI) periode 22 -28 Agustus 2025, asing tercatat jual neto sebesar Rp 48,01 triliun di pasar saham dan Rp 94,28 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Namun asing masih tercatat beli neto Rp 76,44 triliun di pasar SBN.

Risiko naik, asing hengkang

Ekonom Panin Sekuritas, Felix Darmawan bilang, pelemahan IHSG juga disebabkan aksi profit taking investor asing, dengan net sell di beberapa saham big caps seperti perbankan dan komoditas pasca reli beberapa waktu lalu. 

Ada potensi koreksi jangka pendek cukup besar bagi IHSG mengingat pasar saham sudah relatif overbought. VP Equity Retail Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menaksir, IHSG akan cenderung fluktuatif dengan rentang pergerakan dalam jangka pendek di level support 7.750 dan resistance 8.000.

Sementara Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menaksir rupiah berpotensi menembus Rp 16.700 per dolar AS hingga akhir tahun bila demonstrasi terus berlanjut. 

"Karakter aliran dana asing biasanya lebih bersifat taktis. Investor  mengurangi eksposur saat risiko meningkat ketimbang keluar permanen. "Artinya, selama fundamental makro tetap terjaga, investor asing masih akan kembali masuk setelah kondisi sosial mereda,” imbuh Felix.

Oleh sebab itu Rizal menekankan pemerintah perlu memastikan efek demonstrasi bersifat situasional, bukan sinyal pelemahan stabilitas makro. Sebab jika demonstrasi sampai mempengaruhi program fiskal, menekan cadangan devisa, atau memicu persepsi ketidakpastian kebijakan, maka investor asing dapat meningkatkan premi risiko secara lebih permanen. 
 

Selanjutnya: Asing Agresif Menggarap Pasar Waralaba Nasional

Komentar Publish : 2025-08-30 06:00:37