Motif Zaman Jepang Antar Nabila Jadi Juragan Batik Kondang

Singkat cerita, mereka mencari orang yang memiliki garis keturunan pengrajin batik Hokoka zaman dulu. Setelah ketemu, produksi batik bernuansa jepang pun mulai berjalan.



Batik tidak lagi berkesan kuno atau kolot. Sejak disahkan sebagai warisan budaya bukan-benda oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pamor batik semakin mencorong. Bahkan, setiap 2 Oktober masyarakat Indonesia memperingati hari batik nasional.

Terdorong ingin turut menjaga nilai luhur batik tulis, sekaligus mengenalkan batik ke anak muda, Nabila membuka usaha Batik Kanawa. Kerja keras, hingga ketekunannya dalam menjalani bisis batik, mendapat ganjaran sebagai Pemenang II Bidang Usaha Kreatif Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2018.

Perempuan asal Pekalongan yang kini tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir Universitas Telkom, Bandung, ini mendirikan Batik Kanawa pada 2015 dengan sahabatnya yang memiliki kesamaan visi misi, dan cara pandang hidup yang sama. Mereka sama-sama sebal karena batik printing merusak, dari sisi ekonomi, juga merusak identitas asli batik sebagai warisan budaya.

“Gak lucu dong, anak muda kita sampai tidak kenal dengan budaya sendiri, tak kenal identitas sendiri,” ucapnya.

Bermodal Rp 20 juta, hasil patungan, mereka memulai bisnisnya. Sang partner sangat berperan karena lebih banyak tahu bisnis batik dan menekuni bisnis batik cap, sehingga memiliki jaringan pengrajin yang bisa diajak kerjasama.

Seiring waktu, ia ingin agar batik tulisnya, memiliki ciri khas berbeda dengan yang lain. Nabila dan kongsinya memilih kekhasan batik jawa hokokai, batik akulturasi budaya Jepang-Indonesia.

Konon, di masa penjajahan Jepang, sebagian motif batik di Pekalongan dibikin dengan ciri khas dari Jepang seperti bunga sakura, bunga dahlia, bunga poni, burung hong, dan lain-lain. Kala itu Jepang juga tak mau warna-warna sogan yang identik dengan warna coklat atau warna hitam yang berkembang di keraton. Jepang lebih suka warna yang ramai.

Singkat cerita, mereka mencari orang yang memiliki garis keturunan pengrajin batik Hokoka zaman dulu. Setelah ketemu, produksi batik bernuansa jepang pun mulai berjalan.

Membawa batik ketika berwisata

Perempuan yang hobi traveling meresakan bahwa  menekuni usaha batik tulis cukup sulit karena perlu mengedukasi konsumen. Maklum, proses produksi batik tulis yang memerlukan waktu berhari-hari menyebabkan harganya tak bisa dibilang murah.

Pada tahap awal mulai usaha, Nabila mengakui terburu-buru mengejar konsumen. Ia menjual dagangannya melalui instagram hingga berbagai platform ecommerce. Namun ia sadar, edukasi minim. Akibatnya dalam sehari cuma laku satu hingga lima potong, dan paling banyak 10.

Sadar bahwa penjualan tak maksimal, ia memutar otak. Bersama rekannya sesama penghobi travelling, dia sepakat menenteng sample batik Kanawa ke setiap daerah yang dikunjungi termasuk ke Kalimantan, Flores, dan Sumatra. Di daerah-daerah itu, dia mencari toko batik yang besar.

“Kami tawarkan batik Kanawa dengan sabar, satu per satu toko didatangi. Kami tunjukkan sampel. Hingga akhirnya kami menjadi suplier batik tulis di Indonesia. Kalau langsung ke konsumen, perputaran uangnya kurang. Penolakan-penolakan, mah, kita udah biasa,” seloroh Nabila.

Pernah suatu ketika, bersama rekannya, dari Pekalongan ke Cirebon, membawa contoh batik tulis untuk ditawarkan ke ke toko-toko besar. Ternyata tidak ada satu pun yang deal hingga akhirnya sore hari pulang lagi ke Pekalongan dengan lima jam perjalanan namun dengan hasil nihil.

“Ketika itu, kami benar-benar merasa capek, benar-benar ingin nangis,” ucap Nabila, mengenang.

Ia tetap memupuk semangat sambil berdoa. Kabar baik pun tiba. Dua minggu setelah perjalanan nihil dari Cirebon, ada pesanan besar dari Tangerang, orderan batik tulis sampai ratusan potong. Dari situ ia percaya, usaha tak akan mengkhianati hasil. “Gila gak nyangka kayak gitu,” kenan Nabila, dengan raut sumringah.

Harus mau menundukkan kepala

Sebagai pengusaha muda, sekaligus pemula, ia terus belajar dari senior-senior yang lebih dulu menekuni batik tulis. Di Pekalongan ia punya mentor, yakni Dudung Ali Syahbana, senior di industri batik tulis.

Setiap melakukan perjalanan traveling, ia pun mencari pengusaha batik di daerah tersebut. Ia datangi rumahnya, nekat minta diajari. Mulai dari motif, pewarnaan, dari karakteristik tiap kota, dan dari situ, ia sadar sulit menerapkan idealis, mengikuti mau sendiri.

Kata dia, jika hendak berbisnis  harus benar-benar mau belajar, jangan naif, tidak sombong, dan selalu rendah hati. Benar-benar menundukkan kepala. Bahkan jika perlu terlihat bodoh di orang-orang yang lebih senior. Dengan sikap seperti itu mereka akan lebih terbuka menerima ilmu. Seringkali saran-saran dari yang lebih senior lebih bagus dari ide-ide yang dimiliki, karena mereka sudah lebih dulu menekuni usaha.

Nabila sekarang memiliki 12 karyawan. Usahanya juga terus berkembang. Kini dia lebih fokus ke produksi dengan melakukan perekrutan ke pengerajin baru. “Tahun ini saya sudah menjual 2.000 potong lebih batik tulis ke seluruh Indonesia, harga mulai Rp 700.000 hingga puluhan juta rupiah per potong ,” ujarnya.

Agar usaha terus berkembang, dia selalu fokus pada ciri khas produk, peka terhadap lingkungan, dan sesuai kebutuhan pasar. Karena itu, bagi yang ingin berbisnis, harus berani nekat. Tak boleh cengeng atau baperan. Ketika awal usaha, bakal banyak penolakan. Jadi harus siap mental.

“Kalau gak nyoba, kamu gak bakal tahu, se-amazing apa Tuhan bakalan kasih yang baik buat kamu. Lebih baik jadi bos daripada jadi karyawan, itu yang memotivasi saya sampai saat ini," kata dia. 

Sekecil-kecilnya bisnis, menurut Nabila, dia tetap jadi bos, tetap menjadi penentu kebijakan. "Kalau kamu jadi karyawan, kamu lagi ngebangun bos kamu. Kalau kamu jadi bos kamu sedang membangun masa depan diri sendiri, jadi kalau memang usaha, jalani dulu, biar modal sedikit kamu dijalani,” tegasnya.

Selanjutnya, usaha yang digeluti harus singkron dengan hobi. Jeli melihat potensi yang perlu digali, apa yang bisa dibawa ke dunia luar, bawa saja, karena kalau bisa berdayakan sekitar, pasti banyak orang yang bisa tertolong.

Terakhir, jaga reputasi. Reputasi yang bagus itu lebih berharga daripada uang. Di Batik Kanawa, Nabila lebih berusaha membangun reputasi ketimbang berorientasi kepada uang. Dia selalu mengedukasi konsumen tentang mengapa harus memilih batik tulis. Angap konsumen sebagai temen, otomatis akan aware dengan produk.

Dalam waktu dekat, ia bakal berkolaborasi Malinda Amalia, pemilik brand Linean. Keduanya akan meluncurkan brand bersama yakni Linawa. “Ini semacam selebrasi kami berdua, merayakan kemenangan kita berdua di ajang WMM 2018 ini,” pungkas Nabila.

(Commercial Content)
Artikel