Kisah Tiga Anak Muda Meracik Herbal Foam hingga Diakui Dunia

Dengan proses trial and error sampai 10 bulan hingga kemudian mendapat formula pas. Hingga Maret 2018 terciptalah produk idaman.



Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Sementara, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Sampah plastik, terutama pembungkus makanan yang menggunung, menjadi keprihatian Aprial Syahputra, mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Kimia Industri Universitas Sumatera Utara (USU), dan dua rekannya, Risdarwanto dan Andreasen P Chaidir.

Mereka ingin masalah sampah, terutama dari makanan, mampu diatasi namun dengan tidak merusak tampilan atau produk kuliner. Dari situ, tercetuslah ide, membuat Herbal Foam, pembungkus makanan berbahan herbal yang berasal dari bahan baku alami.

Ketiganya lalu membuat riset, membaca jurnal-jurnal, dan meracik bahan baku. Dengan proses trial and error sampai 10 bulan hingga kemudian mendapat formula pas. Hingga Maret 2018 terciptalah produk idaman.

Campuran Herbal Foam terdiri dari bahan-bahan alami yang ada di sekitar lingkungan. Seperti getah akasia, pandan, ditambah dengan bahan chitosan yang didapatkan dari cangkang udang atau kepiting.

“Pada tahap awal, terkadang komposisinya salah, atau bahan yang digunakan salah. Berulang-ulang kami mencari formula yang pas untuk menghasilkan Herbal Foam,” ucap Aprial.

Meski di awal produk tak menemui bentuk karena terlalu lembek dan pengeringan masih manual, ketiganya tak patah arang.

Bagi mereka sudah saatnya pembungkus makanan berupa plastik dan styrofoam yang bisa menyebabkan kanker dan mengganggu kesehatan reproduksi, tak digunakan lagi. WHO sendiri sudah melarang. Di Indonesia Bandung juga melarang penggunaan styrofoam sebagai kemasan kuliner.

Herbal Foam yang diciptakan mudah terurai sehingga ramah lingkungan bahkan bisa dimakan. Ini membuktikan produk Herbal Foam sangat aman dan hygienis. Menurut Aprial, setelah produk awal jadi, Herbal Foam diikutkan dalam World Inventionn Intellectual Property Association (WIIPA) awal Desember 2017 lalu di Taiwan dan meraih medali emas.

“Di luar negeri, mereka lebih paham isu-isu lingkungan, pemanasan global, persoalan sampah. Produk kami sangat diapresiasi. Bahkan juri kami pun makan piring Herbal Foam, akhirnya kami dapat medali emas,” ujar Aprial, terkekeh.

Bagi Aprial, dalam menghasilkan inovasi maupun produk, ia punya prinsip sederhana. Produk tersebut benar-benar dibutuhkan masyarakat sesuai keinginan konsumen, serta membantu agar kehidupan masyarakat semakin baik.

Dari pengalamannya mengikuti berbagai lomba di luar negeri, produk-produk inovator di luar negeri, umumnya sederhana namun memiliki impact nyata.

“Cari saja ide sederhana, namun sesuai dengan kebutuhan konsumen atau masyarakat,” ucapnya.

Herbal Foam saat ini sudah masuk tahap registrasi paten, namun belum mendapat sertifikat resmi sehingga diakui Aprial menjadi salah satu kendala jika ingin melakukan produksi secara besar-besar karena khawatir akan diduplikasi atau ditiru.

Yang pasti, mereka ingin agar secepatnya memproduksi Herbal Foam secara massal dan memasoknya dalam jaringan kebutuhan kantor-kantor, hotel dan lainnya.

Tim Solid Jadi Pendukung

Setiap menjalankan bisnis, berkolaborasi sebagai tim, diakuinya selalu ada kendala. Agar tetap solid, sedari awal merintis mereka sudah sama-sama komitmen bahwa setelah kuliah, tidak akan melamar kerja namun fokus mengembangkan bisnis yang sudah dirintis. Sebagai leader, ia mengawal komitmen itu agar terwujud. Jika ada kendala, diselesaikan bersama-sama.

“Satukan visi dulu agar tidak goyang di tengah jalan.Setiap tim, perlu ada leader. Namun semua mengambil peran, dan komitmen menjalanan visi,” tegasnya.

Kata dia, bagi mereka yang ingin merintis usaha, ingin mendirikan start up, harus benar-benar melakukan analisa kajian apa yang dibutukan konsumen. Jangan mengikuti tren arus semata karena hanya akan ramai di awal namun kemudian keteteran karena produk dan jasa bisa berubah drastis di tengah jalan. Lalu ditinggalkan konsumen.

Hal lain yang perlu diperhatikan, selalu melakukan coaching bisnis sehingga sebagai entitas bisnis, akan tahu apa yang dibutuhkan di masa depan, apa yang akan menjadi kendala. Misal, ketika customer sudah bosan dengan produk yang sudah dikeluarkan, maka sudah harus bersiap dengan berbagai varian baru. Konsumen selalu merasa ada hal baru yang didapt ketika menggunakan produk.

Melalui Wirausaha Muda Mandiri (WMM) ia mengakui cakrawala berpikir menjadi lebih luas karena mendapat coaching dari berbagai praktisi bisnis. Tak kalah penting, branding si pemilik bisnis juga mutlak diperlukan. Jangan sampai dari sis persepsi produk bagus, sementara penilaian terhadap pemilik cenderung buruk.

Misal dinilai sombong, dan tidak bisa menerima kritikan dari konsumen. Produk bagus tapi attitude owner tidak bagus, juga bisa berdampak buruk. Oleh karena itu personal branding harus sebaik mungkin.

Berkat inovasinya, Aprial meraih gelar Pemenang II Wirausaha Muda Mandiri 2018, yang berlangsung di Malang, dari tanggal 6 hingga 15 September 2018. Menyisihkan 68 finalis lainnya dari seluruh Indonesia untuk wirausaha muda mandiri kategori mahasiswa bidang usaha teknologi non digital. Untuk gelar tersebut, mereka mendapatkan hadiah sebesar Rp 50 juta.

“Setelah ikut Wirausaha Muda Mandiri, Herbal Foam semakin dikenal. Efeknya permintaan produk dari berbagai daerah juga banyak, meningkat beberapa kali lipat. Banyak order dari Aceh, Tangerang, dan berbagai daerah lain. Bisa bertemu dengan perwakilan pemerintah, WMM mengubah perspektif kami dalam melihat bisnis dan inovasi,” ucap Aprial.

(Commercial Content)
Artikel