JAKARTA. Selama empat tahun terakhir, harga emas batangan Antam masih konsisten menanjak. Harga 1 gram logam, Sabtu (20/10) lalu, di posisi Rp 676.000 per gram. Di hari yang sama, harga 1 gram logam mulia ukuran 1 kilogram juga bergerak positif ke level Rp 626.185 per gram. Jika dihitung selama empat tahun terakhir, harga logam mulia sudah tumbuh rata-rata di atas 6% per tahun.
Padahal menilik harga emas di pasar global hanya naik tipis selama empat tahun ke belakang. Pada Oktober 2014, harga emas berada di posisi US$ 1.180 per ons troi dan saat ini di kisaran US$ 1.220 per ons troi.
Dari angka itu, harga emas dunia hanya ada pertumbuhan sekitar 3,3%, tidak sehebat pada periode 2008-2011 silam. Meskipun begitu, harga emas global pernah bergerak naik ke level US$ 1.375 per ons troi pada Juli 2016 dan di Mei 2018 sempat bertengger di posisi US$ 1.364 per ons troi.
Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono mengungkapkan, harga emas dunia bergerak pada fase konsolidasi selama empat tahun terakhir, yakni di kisaran US$ 1.470 per ons troi-US$ 1.120 per ons troi.
"Konsolidasi itu dipengaruhi oleh kebijakan The Fed yang agresif tanpa kompromi (hawkish), terutama pada tahun ini dengan beberapa kenaikan suku bunga," jelas Wahyu kepada KONTAN, Kamis (18/10) pekan lalu.
Dari sini terlihat, pergerakan harga emas Antam dan harga emas di pasar global berbeda. Hal ini lantaran laju emas Antam lebih ditopang oleh nilai tukar rupiah, sementara emas dunia dipengaruhi pergerakan dollar AS.
Emas dunia akan naik jika dollar AS melemah. Sementara belakangan ini, mata uang negeri Paman Sam tersebut terus menguat karena faktor kebijakan The Fed. Akibatnya, harga emas pun terseok-seok. Di sisi lain, dominasi dollar AS menyebabkan rupiah semakin tergopoh-gopoh. Alhasil, harga emas Antam pun semakin menguat.
Wahyu memperkirakan, harga emas dunia masih tetap konsolidasi dalam jangka waktu menengah. Harganya diprediksikan tidak akan banyak berubah dan bergerak di kisaran US$ 1.200 per ons troi. Sedangkan harga emas Antam diperkirakan masih bergerak pada kisaran Rp 650.000 hingga Rp 690.000 per gram sampai akhir tahun nanti.
Dengan kondisi harga emas Antam tersebut, Wahyu menyarankan untuk memegang emas sebagai hedging jika tidak memiliki dollar AS sebagai lindung nilai dari pelemahan rupiah. "Jika mau investasi agresif, maka kita bisa hold sekaligus emas Antam dan dollar AS," ungkap dia.
Menurut Wahyu, pergerakan emas Antam dipengaruhi faktor rupiah, dollar AS, kebijakan The Fed dan sentimen di lokal maupun global. Namun, faktor yang paling kuat adalah faktor nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dollar AS. Jika ingin investasi emas, Wahyu menyarankan lebih baik membeli emas batangan di Gerai Antam daripada membeli emas di Pegadaian atau lewat skema cicilan emas.
Sementara Panji Harsanto, Perencana Keuangan Independen menilai investasi emas menguntungkan jika dilakukan jangka panjang. Tenor yang pas agar konsumen mendapatkan untung atau cuan maksimal adalah harus lebih dari lima tahun. "Dalam empat tahun terakhir memang harga emas batangan tetap naik. Tetapi akan lebih baik jika dilakukan lebih dari itu atau bahkan sampai 10 tahun," ungkap dia.
Investasi emas cocok bagi yang ingin mengamankan dana darurat karena emas cukup likuid dan mudah ditransaksikan. Dia menyarankan sekitar 20%-30% dana darurat konsumen diinvestasikan di emas. "Selain itu, emas juga sangat cocok untuk berinvestasi dana haji dalam rangka menghindari riba. Daripada disimpan di deposito, lebih baik beli emas karena masa tunggu haji itu kan cukup lama." tambah Panji.
Dia memandang prospek investasi emas tetap berkilau jika diterapkan dalam jangka panjang. Panji juga menyarankan, investor lebih baik berinvestasi emas batangan daripada emas perhiasan. Sebab, harga beli emas perhiasan lebih mahal karena ada biaya untuk membentuknya. Adapun emas batangan Antam mudah ditransaksikan dan harga bersaing.


