JAKARTA. Di periode pemerintahan Presiden Joko Widodo, pertumbuhan industri reksadana Indonesia terbilang pesat. Ini terbukti dari jumlah dana kelolaan dan produk reksadana yang semakin berkembang.
Lihat saja, dalam empat tahun, dana kelolaan atau assets under management (AUM) industri reksadana melesat 121%. Di Oktober 2014, saat Jokowi pertama kali dilantik, AUM reksadana hanya Rp 212 triliun. Kini nilainya mencapai Rp 470 triliun.

Menurut Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, industri reksadana memang menjadi salah satu instrumen yang berhasil bertahan bahkan bertumbuh di tengah sentimen negatif eksternal, seperti kenaikan suku bunga The Federal Reserve. "Memang penyebab utama kenaikan industri reksadana adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang mendorong pertumbuhan jumlah investor," jelas dia.
Pertumbuhan industri keuangan lain, seperti asuransi juga ikut menopang industri reksadana. Maklum, banyak dana asuransi yang ditempatkan pada reksadana.
Sayang, dana kelolaan reksadana akhirnya justru terpangkas kinerja buruk produk ini. Asal tahu saja, pada April tahun ini, dana kelolaan reksadana mencapai rekor terbesar, yakni mencapai Rp 481 triliun. Tapi lantaran kinerja rata-rata reksadana merosot tahun ini, posisi AUM juga ikut turun.
Kinerja beberapa produk reksadana memang terlihat mengecewakan. Contoh, kinerja rata-rata reksadana saham dalam empat tahun era pemerintahan Presiden Jokowi ternyata malah minus 0,12%.
Sementara reksadana pasar uang mencetak kinerja rata-rata terbaik. Dalam empat tahun kepemimpinan Jokowi, reksadana pasar uang mencetak untung 5,46% per tahun.
Head of Research & Consulting Service Infovesta Utama Edbert Suryajaya menjelaskan, reksadana saham mencetak kinerja negatif karena mengalami tiga kali fase kejatuhan. Di 2015, indeks reksadana saham sempat turun 20%. Penurunan juga terjadi di akhir 2016 dan berlanjut di tahun ini.
Menurut Edbert, sebagaimana instrumen pasar modal lainnya, kinerja reksadana masih dibayangi sentimen negatif kenaikan suku bunga The Federal Reserve. Bank sentral Amerika Serikat ini diyakini akan menaikkan suku bunga hingga 2019.
Kenaikan suku bunga AS ini bakal diikuti naiknya suku bunga dalam negeri dan menekan nilai tukar rupiah. Kebijakan ini juga membuat investor asing kembali memarkirkan dananya di Negeri Paman Sam.
Berkat strategi tepat
Walau prospek kinerja reksadana saham masih buram, tetap saja ada reksadana yang sukses mencetak kinerja positif. Contohnya, Sucorinvest Equity Fund milik Sucorinvest Asset Management, yang mencetak kinerja tinggi dalam empat tahun terakhir.
Berdasarkan data Infovesta Utama, hingga 11 Oktober 2018, reksadana Sucorinvest Equity Fund membukukan kinerja paling tinggi di antara reksadana saham. Rata-rata kinerja selama empat tahun mencapai 16,53%.
Jemmy Paul Wawointana, Plt CEO Sucorinvest Asset Management menyebut, reksadana tersebut bisa mencetak kinerja cemerlang karena menerapkan strategi pengelolaan secara aktif. Reksadana ini menggunakan pendekatan value investing.
Manajer investasi juga tetap fleksibel dalam mengatur portofolio, untuk menyesuaikan dengan siklus pasar dan siklus industri saat itu. "Ketika pasar sedang jelek, kami lebih defensif, ketika pasar bagus kami pilih saham yang high beta," jelas Jemmy.


